Selasa, 20 November 2018 | 07:56 WIB
Adei Plantation & Industry Terlibat Pembakaran Hutan di Riau
Kamis, 11 Juli 2013 | 21:30 WIB
ilustrasi - [ist]

Skalanews - Satu perusahaan perkebunan, PT Adei Plantation & Industry (API) dinyatakan bertanggung jawab atas kebakaran hutan yang terjadi di Riau.

Perusahaan tersebut kini diperiksa bersama dengan sejumlah saksi-saksi lainnya.

"Apakah ada yang paling kuat untuk mempertanggungjawabkan sebagai tersangka, sejauh ini dari PT Adei Plantation & Industry," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Ronny F. Sompie di Humas Mabes Polri, Jakarta, Kamis (11/7)

Hingga saat ini sudah 14 saksi diperiksa mulai dari masyarakat hingga pihak manajemen perusahaan tersebut. Jika nanti terbukti PT Adei terlibat pembakaran hutan, maka akan dikenakan sanksi Undang-undang Korporasi dan Pembakaran Hutan.

"Ada tanggungjawab perusahaan dalam kejadian pembakaran, tapi siapa yang membakar masih didalami. Karenanya, belum ditetapkan siapa yang bertanggungjawab," pungkasnya.  

Sebelumnya, API telah ditetapkan sebagai salah satu tersangka pembakaran lahan dan hutan di Riau dari delapan perusahaan perkebunan kelapa sawit lain, yang disinyalir terlibat dalam kasus pembakaran hutan dan lahan gambut di Riau.

Sementara status hukum terhadap tujuh korporasi lain belum ditentukan sebab masih dalam tahap penyelidikan.

"Ada delapan perusahaan dan masih diselidiki tentang dugaan antara pelaku dengan perusahaan," ujar Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar pada wartawan, di Jakarta, pada Kamis (4/7/13) lalu.

Penetapan tersangka ini akui Boy berdasarkan pada pihak korporasi dilihat dari tindakan perusahaan yang membuka lahan perkebunan dengan melakukan pembakaran dan bukan sebatas melihat titik api.

Namun, jelasnya titik api di wilayah perusahaan tidak bisa dijadikan alasan bahwa perusahaan itu menjadi penyebab musibah kebakaran. Demikian juga kebakaran lahan yang ada di area salah satu perusahaan tersebut bisa saja dilakukan oleh orang lain atau perusahaan lain.

Selain itu, kepolisian juga menetapkan status tersangka kepada 24 orang lain yang kebetulan adalah warga setempat.
Seluruh tersangka pembakaran hutan ini akan diganjar pasal berlapis semisal UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lingkungan.

Apabila para tersangka terbukti sengaja membakar hutan, mereka terancam 15 tahun penjara atau denda Rp5 miliar. Namun, jika kebakaran terjadi karena faktor kelalaian, hukuman lima tahun kurungan dan dena Rp1,5 miliar akan menanti.

Diketahui, Kementrian Lingkungan Hidup telah menyebut delapan perusahaan milik investor asal Malaysia yang terlibat kasus kabut asap di Riau. Selain PT Adei Plantation & Industry, perusahaan lain yakni PT Langgam Inti Hibrindoa, PT Bumi Rakksa Sejati, PT Tunggal Mitra Plantation, PT Udaya Loh Dinawi, PT Jatim Jaya Perkasa, PT Multi Gambut Industri, dan PT Mustika Agro Lestari. (frida astuti/bus)