Senin, 18 November 2019 | 03:47 WIB
KontraS Catat Sebanyak 21 Kasus Direkayasa Polisi
Minggu, 12 Januari 2014 | 22:21 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Rekayasa kasus yang dilakukan aparat kepolisian tak hanya sekedar dugaan saja. Pasalnya Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyebut setidaknya ada 21 kasus yang direkayasa polisi sepanjang 2012-2013.

Dikatakan Kepala Divisi Advokasi dan HAM KontraS, Yati Andriyani kebanyakan sebelum merekayasa kasusnya, polisi lebih dulu 'menyiksa' korban untuk mengaku.

Ironisnya, rekayasa terungkap setelah Mahkamah Agung (MA) memvonis bebas.

"Ada banyak petunjuk dan keterangan korban bahwa proses hukum di kepolisian tidak dilakukan secara profesional," kata Yati.

Hal tersebut dikatakan Yati dalam jumpa pers terkait dengan maraknya rekayasa kasus, peraktik-praktik penyiksaan dan ketidakprofesionalan Polri dalam menangani tindak pidana yang dilakukan Polri yang terungkap dalam beberapa putusan Mahkamah Agung (MA) di kantor KontraS, Jakarta, Minggu (12/1/2014)

Bahkan KontraS mencatat dalam proses hukum yang dilakukan kepolisian, korban kerap disiksa, tidak diimbangi dengan bukti meyakinkan, serta tidak ada informasi yang diberikan dengan baik pada korban atau keluarganya.

Berikut, beberapa rekayasa kasus yang dilakukan kepolisian berdasarkan catatan KontraS:

Yusli bin Durahman (23), warga Kampung Bojong Keong, RT 03/04, Desa Mekar Sari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor pada 26 Desember 2011 tewas ditembak oleh Anggota Polsek Cisauk Kab Tangerang.

Mulanya Yusli ditangkap di rumahnya karena diduga sebagai pelaku pencurian kendaraan motor. Yusli ditangkap tanpa membawa surat penangkapan dan maksud penangkapan.

Bahkan Yusli dianiaya dengan mata ditutup lakban, dipukul dan ditendang hingga tangan, kaki, dan rahangnya patah. Yusli juga ditembak di luar wilayah kewenangan Polisi, yaitu di area Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek).

Pada 14 Agustus 2012, Lima orang warga ditangkap Polres Jayawijaya disangka terkait pembunuhan Marten Kurisi. Kelima ditangkap tanpa surat penangkapan, dan mendapat penyiksaan saat diinterogasi. Bahkan, salah satu orang yang ditangkap itu mengalami gangguan kejiwaan.

Tak hanya itu, pada hari yang sama juga (14 Agustus 2012), 17 orang warga Mapipa ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Mereka ditempatkan dalam satu ruangan berukuruan 3x2,5 meter. Mereka pun dipukuli, ditelanjangi, dipotong rambut dan bulu kemaluannya. Bahkan mereka pun tak diberi makan dan minum. Ke-17 warga tersebut juga ditahan selama 120 hari, dan mendapat siksaan.

"Parahnya, tidak ada bukti keterlibatan dalam yang disangkakan, hingga akhirnya mereka dibebaskan," papar Yati.

Kemudian pada 17 Desember 2012. Penyidik Reserse Narkoba Polda Metro Jaya menangkap Edi Kusnadi atas tuduhan kepemilikan narkotika. Edi disiksa dengan pemukulan secara keroyokan, diborgol dan disetrum.

Dan, pada 13 Juni 2013. Ruben Pata Sambo ditangkap atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana. Ruben disiksa dengan ditelanjangi, jari kaki diinjak dengan kaki meja, dirantai dan dipukul serta ditendang. (frida astuti/bus)


  
  
TERPOPULER
Index +