Jumat, 18 Oktober 2019 | 11:42 WIB
KontraS: Ada Indikasi Rekayasa Terhadap Dua Terpidana Mati
Senin, 16 Maret 2015 | 16:21 WIB
-

Skalanews - Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) menemukan adanya indikasi rekayasa terhadap dua terpidana mati asal Nias dalam kasus pembunuhan berencana. Kasus tersebut terjadi 24 April 2012.

Dua terpidana mati itu adalah kakak dan adik ipar bernama Rasullah Hia dan Yusman Telumbanua. Keduanya saat ini ditahan di Lapas Batu, Nusakambangan.

Demikian disampaikan Kordinator Kontras, Haris Azhar dalam konferensi pers di kantornya Jalan Borobudur, Jakarta Pusat, Senin (16/3).

"Keduanya divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gunung Sitoli. Khusus Yusman dia divonis hakim saat berumur 16 tahun yang merupakan kategori anak di bawah umur," kata Haris.

Kasus dua pembunuh sadis asal Nias ini terjadi ketika mereka ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Kolimarinus Zega, Jimmi Trio Girsang dan Rugun Br Halolho di Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara.

Penyelidikan Polres Nias mendapati ada motif uang di balik kasus pembunuhan berencana ini. Pada 21 Mei 2013 hakim memutus hukuman mati.

Haris menjelaskan, ketiga korban tiba di Nias hendak membeli 3 tokek dengan harga Rp500 juta. Namun, belakangan keluarga ketiga korban mengungkap fakta di pengadilan kalau saat ke Nias ketiganya tidak membawa uang Rp500 juta.

Hasil temuan polisi sendiri hanya ditemukan uang Rp7 juta dalam proses pengadilan, motif uang itu berubah menjadi jimat.

"Padahal penyidik Polres sendiri sudah mengantongi ketiga nama pelaku yang telah ditetapkan DPO oleh Polres Gunung Sitoli," tuturnya.

Sementara itu, Staf Pembela Divisi Hak Politik KontraS, Arif Nurfikri mendapat beberapa temuan kejanggalan mulai dari proses penyelidikan hingga pengadilan. Seperti tidak adanya pendampingan kuasa hukum terhadap kedua orang terdakwa.

Padahal, tegas Arif, dalam KUHP diatur tersangka atau terdakwa yang diancam dengan pidana penjara 15 tahun atau lebih, atau pidana mati atau tersangka dan terdakwa yang tidak mampu diancam dengan pidana 5 tahun, pejabat yang bersangkutan pada setiap tingkat pemeriksaan wajib mendapatkan advokat dengan cuma-cuma.

"Sedangkan Yusman ini dan kakak iparnya mendapat bantuan kuasa hukum ketika proses hukum di pengadilan," kata Arif.

Arif telah bertemu dengan Yusman dan kakak iparnya di Lapas Batu, Nusakambangan. Kepada Arif mereka mengaku dapat penyiksaan oleh aparat penegak hukum.

Menurut Arif, mereka ditendang, dipukul, bahkan ketika di sel napi lain disuruh untuk menyiksa mereka dengan tujuan keduanya mengaku sebagai pelaku pembunuhan berencana.

"Anehnya lagi kenapa jaksa justru meloloskan perkara mereka berdua ini, sebenarnya ada apa," ujarnya.

Selain itu, kata Arif, penyidik juga tidak mau menggali fakta-fakta dari peristiwa dan alat bukti lain. Sehingga fakta hukum yang diterima hanya diperoleh berdasarkan pengakuan kedua terdakwa, sedangkan pelaku sebenarnya hingga sekarang belum tertangkap.

Saat bertemu Yusman dan kakak iparnya di Nusakambangan mereka baru bisa sedikit bahasa Indonesia. "Sehingga kami menduga kalau saat diperiksa mulai dari polisi hingga hakim mereka tidak disediakan penerjemah bahasa.

Tak hanya itu, selain itu berdasarkan akta lahir yang terima KontraS, Yusman sendiri divonis hukuman mati oleh hakim saat masih di bawah umur.

"Hal itu dapat dilihat melalui akta lahirnya," pungkas Arif. [Deddi Bayu/Bus]