Kamis, 25 April 2019 | 21:32 WIB
Jangan sampai hal ini menghambat pimpinan KPK untuk melaksanakan tugasnya memberantas korupsi
Polisi Didesak Selidiki Ancaman Pembunuhan Pimpinan KPK
Selasa, 16 Agustus 2011 | 15:32 WIB
-
Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) didesak untuk lebih proaktif menyelidiki ancaman pembunuhan yang dilayangkan kepada para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Selaku Ketua Komisi III DPR RI, saya meminta Kapolri proaktif untuk memanggil pimpinan KPK. Ini penting," kata Benny K Harman saat mengantar Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum memenuhi panggilan Komite Etik KPK di Jakarta, Selasa (16/8).

Ia mengatakan Kapolri harus sesegera mungkin memanggil pimpinan KPK yang diancam untuk dibunuh untuk menyelidiki siapa yang hendak melakukan hal tersebut.

"Itu harus diselidiki jangan sampai hal ini menghambat pimpinan KPK untuk melaksanakan tugasnya memberantas korupsi," tegas Benny K Harman.

Sebelumnya Ketua Etik KPK, Abdullah Hehamahua, mengatakan pihaknya telah menemukan bukti ancaman pembunuhan terhadap pimpinan KPK Chandra M Hamzah dan Deputi Penindakan Ade Rahardja terkait dengan kasus yang berhubungan dengan Muhammad Nazaruddin.

Ia menyebutkan adanya rekaman pembicaraan telepon antara orang yang diduga Nazaruddin dengan seseorang bernama Alpang atau diduga Albert P. Dalam rekaman Nazaruddin meminta Alpang menghabisi Chandra dan Ade Raharja dengan imbalan miliaran rupiah.

"Iya ada (ancaman pembunuhan). Ya, pimpinan KPK Chandra, Ade Rahardja, dan lain-lain," saat dikonfirmasi.

Anggota Komite Etik Syafii Maarif juga membenarkan adanya ancaman tersebut. "Ada orang yang mengancam KPK, terutama Ade Rahardja," katanya.

Namun dia tidak mau menyebut siapa yang mengancam untuk membunuh itu. "Itu preman dong, saya tidak mau menyebut. Preman, kalau tidak mengancam bukan preman," imbuhnya.

Percakapan telepon orang yang diduga Nazaruddin itu terjadi sekitar bulan Mei 2011. Saat itu, Nazaruddin sudah disebut-sebut sebagai otak kasus suap proyek Wisma Atlet SEA Games, di Palembang, namun belum ditetapkan sebagai tersangka. (zhank's/ant)