Kamis, 21 Februari 2019 | 07:29 WIB
Modus yang dilakukan para pelaku dengan memasukan Narkoba yang sudah dibungkus kapsul ke dalam tubuh dengan dua cara, ditelan atau dimasukan melalui dubur atau anus.
Polri Tangkap Pelaku Narkoba Jaringan Internasional
Kamis, 15 September 2011 | 18:38 WIB
Barang bukti sabu dan heroin [foto-ist] -
Jakarta – Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Terorganisir Bareskrim Polri, berhasil menangkap pelaku sindikat Narkoba jaringan internasional yang diotaki lima warga negara Nigeria, Afrika Selatan yang kini masih buron.

Kelima anggota sindikat jaringan Narkoba tersebut yaitu Tiar Cornelia (WNI), Diany Theresia Elisabeth alias Dea (WNI), Zulkifli alias Dun (WNI), Sakaria bin Jahidi (WN Malaysia), dan Zuraimi bin Abdul Gani (WN Malaysia).

Dari tangan mereka, polisi  memperoleh barang bukti sebanyak 91 gram sabu dan 16 kapsul atau setara 140 gram heroin. Kesemua barang haram itupun diselundupkan dengan cara ditelan dan dimasukkan ke dalam dubur.  

Demikian yang dijelaskan Kepala Sub Direktorat II Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri, Kombes Pol. Siswandi di Kantor Direktorat IV Narkoba Polri sekaligus Kantor BNN, Cawang Jakarta pada Kamis (15/9). Ia menjelaskan modus yang dilakukan pelaku dengan memasukan narkoba yang sudah dibungkus kapsul ke dalam tubuh dengan dua cara, ditelan dan dimasukan melalui dubur atau anus.

Dari hasil kerjanya, para pelaku ini akan diberi upah 2000 ringgit Malaysia bila berhasil memasukan barang haram tersebut ke Indonesia. Jika berhasil, mereka pun akan mendapatkan bonus tambahan.  

"Pihak kepolisian memaksa untuk pelaku mengeluarkan sabu dan heroin dalam tubuhnya dengan jumlah 14 kapsul," tegasnya

Dari hasil penyidikan sementara diketahui kelima pelaku ini berperan sebagai pengedar dan kurir yang direkrut di Malaysia dan Indonesia serta langsung dikontrol oleh empat warga negara Nigeria yang masih dalam daftar pencarian orang (DPO) yakni Brit, Grace, Junior, Sasa dan Beni.

“Mereka dikendalikan langsung dari Malaysia oleh kelompok West Africa (Afrika Barat),“ tegas Siswandi

Akibat perbuatan tersebut para tersangka ini akan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Narkotika dengan ancaman pidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun.

Jadi terbongkarnya kasus ini bermula saat kepolisian menangkap Tiar pada 12 September 2011 lalu di rumahnya di Jalan Kampung Bulu, Tambun Selatan, Bekasi. Di rumah itu, polisi menyita 14 kapsul berisi sabu dengan berat 75 gram yang dibawanya dari Malaysia dengan cara dimasukkan ke dalam dubur. Rencananya, barang haram itu akan diserahkan kepada kurir lainnya bernama Dea yang juga warga Bekasi.

Dea ditangkap pada hari yang sama, saat menerima sabu dari Tiar. Wanita tambun itu, kata Siswandi, sudah 3 kali menyelundupkan sabu ke Indonesia dengan cara ditelan. “Cara ini (ditelan dan dimasukkan ke dalam dubur) adalah yang paling aman bagi pelaku penyelundupan karena tidak bisa terdeteksi dalam pemeriksaan oleh petugas,” katanya  Siswandi.

Keesokannya, polisi menciduk Zulkifli, warga Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Ia ditangkap di parkiran SPBU Jalan TB Simatupang, Kampung Rambutan Jaktim saat hendak mengantar heroin kepada Dea. Zulkifli ini ini sebagai kakitangan Beni dan Sasa (DPO) yang merupakan  WN Nigeria.

Sementara pada Rabu (14/9), polisi kembali menangkap Sakaria bin Jahidi dan Zuraimi bin Abdul Gani (WN Malaysia) di Hotel Fiducia, Pasar Minggu, Jaksel. Keduanya ini diketahui kerap melakukan penyelundupan sabu ke Indonesia juga dengan cara ditelan. Karena saat ditangkap, dalam perut Abdul Gani masih menyisakan 2 kapsul sabu.

Dari hasil pemeriksaan, kelima pelaku mengakui mereka sudah memasarkan sabu dan heroin itu ke beberapa daerah seperti Bali, Surabaya dan Jakarta.

Sedangkan untuk melacak keberadaan pelaku yang dinyatakan buron itu, polisi sudah bekerjasama dengan kepolisian Malaysia. “Kita sudah kirim email ke kepala polisi sana,”tegas Siswandi. (dip)