Jumat, 20 Juli 2018 | 10:23 WIB
Tentunya semua laporan akan ditindaklanjuti oleh Polri. Itu merupakan hak mereka untuk melapor dan laporan itu harus kita melakukan penyelidikan lagi
Penyidik Akan Selidiki Kasus Hilangnya Flashdisk dan CD Nazaruddin
Jumat, 23 September 2011 | 21:48 WIB
Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Anton Bachrul Alam [foto-istw] -
Jakarta – Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akan menindaklanjuti laporan Muhammad Nazaruddin terkait hilangnya flashdisk dan cakram digital (CD) yang diduga dilakukan oleh Mantan Dubes RI untuk Kolombia Michael Manufandu 

Seperti yang dijelaskan Kepala Divisi Humas (Kadivhumas) Polri, Irjen Anton Bachrul Alam di kantornya Jalam Trunojoyo, Jakarta pada Jumat (23/9/2011) bahwa semua laporan pasti akan ditindaklanjuti.

"Tentu semua laporan akan ditindaklanjuti oleh kita. Tentu hak mereka untuk melapor dan laporan itu harus kita melakukan penyelidikan lagi," ujarnya  

Dari laporan itu, tambah Anton pihaknya akan menyelidiki dahulu dari laporan kuasa hukum Nazaruddin beberapa waktu lalu. Begitu halnya dengan lokasi tempat kejadian perkara yang berada di KBRI Kolombia, Polri juga akan melakukan mengecek terlebih dahulu.

"Nanti kan dilidik dulu. Kami tidak langsung langsung disidik, tapi dilidik dulu ya. Nanti kita lihat tempatnya di mana, apakah hilang di KBRI, atau di mana. Kalau di KBRI bisa, semuanya nanti akan dibahas. Contohnya dulu waktu Munir juga di atas pesawat pun bisa juga dilakukan. Nanti kita akan koordinasi," jelasnya yakin.

Sebelumnya kuasa hukum Nazaruddin, Dhea Tunggaesti melaporkan Michael Manufandu ke Bareskrim Polri karena dugaan telah melakukan penggelapan dan kejahatan terhadap jabatan. Dalam, laporan bernomor LP/599/IX/Bareskrim tanggal 22 September 2011 itu kliennya menuding Menufandu telah menghilangkan sejumlah isi tas warna hitam milik kliennya, yakni  berupa tiga buah flashdisk dan satu buah CD.

Hal ini berdasarkan keterangan kliennya, tas hitam merek dunhill tersebut telah dititipkan kepada Menufandu saat di KBRI Kolombia. Dalam laporannya, Michael Manufandu dituding atas dua sangkaan, yakni Pasal 421 KUHP tentang kejahatan dalam jabatan dan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan. (bus)
  
  
Berita Terkait: