Selasa, 22 Oktober 2019 | 08:33 WIB
Internasional
Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), mengirim berbagai jenis senjata baru kepada kelompok-kelompok bersenjata di Afghanistan dan Irak.
Iran Kirim Senjata Baru ke Afghanistan dan Irak
Minggu, 3 Juli 2011 | 13:54 WIB
Senapan Khaibar -
Wall street Journal, mengulangi klaim Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates bahwa Iran mengirim senjata baru ke Irak dan Afghanistan dalam rangka mempercepat keluarnya pasukan asing dari dua negeri pendudukan itu.

Farsnews (2/7) melaporkan, Wall street Journal dalam laporannya mengutip keterangan pejabat Amerika secara anonim mengklaim bahwa Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), mengirim berbagai jenis senjata baru kepada kelompok-kelompok bersenjata di Afghanistan dan Irak.

Disebutkan pula bahwa dalam beberapa bulan terakhir, senjata-senjata tersebut dikirim ke Irak dan Afghanistan dalam rangka mempercepat proses penarikan mundur pasukan Amerika Serikat. Senjata-senjata itu menurut Wall Street Journal digunakan khusus untuk menarget tentara Amerika.

Para pejabat Amerika Serikat juga mengklaim bahwa roket jarak jauh Iran yang diberikan kepada Taliban Afghanistan telah meningkatkan daya jangkau serangan kelompok tersebut terhadap Amerika Serikat dan militer asing.

Juru Bicara Militer Amerika Serikat di Irak, Jenderal James Buchanan, kepada Wall Street Journal mengatakan, "Saya berpikir, kemungkinan kita akan menyaksikan bahwa kelompok-kelompok dukungan Iran akan melanjutkan serangan mereka pada tingkat yang lebih tinggi."

Gates dalam wawancaranya dengan Bloomberg news beberapa waktu lalu menyatakan bahwa sekitar 40 persen korban tewas di pihak milter AS di Afghanistan, adalah korban dari serangan kelompok dukungan Iran, sejak pengumuman tanggal pasti penarikan mundur pasukan asing.

Dikatakannya, "Iran mendukung kelompok-kelompok ekstrim sehingga mereka dapat membantai pasukan Amerika Serikat sebanyak-banyaknya dan dengan demikian Tehran ingin membuktikan kepada rakyat Irak bahwa Iran-lah yang mengusir Amerika Serikat dari Irak."

Klaim Gates dan Wall Street Journal itu dijadikan salah satu alasan bagi perpanjangan misi militer Amerika Serikat di Irak menjelang berakhirnya masa legal keberadaan pasukan asing di negeri pendudukan tersebut.

Berdasarkan kesepakatan keamanan Baghdad-Washington (SOFA) yang ditandatangani tahun 2008, hingga akhir tahun 2011 pasukan Amerika Serikat harus ditarik mundur secara penuh dari Irak. Namun gerak-gerik para pejabat Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa, Gedung Putih masih berniat mempertahankan pasukannya di Irak melebihi batas waktu tersebut. [mad]