Sabtu, 25 Januari 2020 | 05:37 WIB
Korupsi
Kehadiran Ketua MK, Mahfud MD bersama Sekjen MK, DJanedjri M. Gaffar ke KPK untuk melaporkan kasus dugaan pemberian sejumlah uang dari Muhammad Nazaruddin.
Nazaruddin Dilaporkan Ke KPK
Selasa, 24 Mei 2011 | 17:34 WIB
Ketua KPK, Busyro Muqoddas/foto.istw -
Jakarta – Akhirnya, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD bersama Sekjen MK, Djanedjri M. Gaffar melaporkan kasus dugaan pemberian uang oleh mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Usai mengikuti pertemuan sejumlah pimpinan lembaga negara di Gedung MK pada Selasa (24/5), Mahfud dan Djanedjri langsung berangkat ke gedung KPK dengan mengendarai mobil dinas bernopol RI 9. Namun sayang, kedua pejabat MK tersebut enggan memberikan keterangan soal laporannya tersebut.

Namun, hal itu dibenarkan Ketua KPK, Busyro Muqoddas pada Selasa (24/) mengatakan bahwa kehadiran kedua pejabat negara MK tersebut untuk melaporkan terkait dugaan pemberian sejumlah uang dari Muhammad Nazaruddin. "Ya terkait (pemberian) Nazaruddin itu," jelasnya melalui pesan singkatnya.

Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat komisi III dengan KPK di Gedung DPR pada Senin (23/5) menyatakan KPK telah proaktif untuk menanggapi adanya informasi pemberian uang oleh politisi Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin kepada Sekjen MK, Janedjri M Gafar. Karena pada Senin kemarin, staf pengaduan KPK telah mendatangi Sekjen MK untuk meminta bahan keterangan untuk penyelidikan kasus tersebut.

Akui Busyro, staf yang mendatangi Sekjen MK tersebut adalah staf dari bagian pengaduan masyarakat. Tugas mereka untuk mengumpulkan bahan dan keterangan awal (Pulbaket).

Jadi, kasus ini bermula saat Djenedjri bercerita kepada Mahfud bahwa pada 23 September 2010, dirinya sempat dikasih uang oleh Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin sebesar Sin$120 ribu.
Pemberian uang itu dilakukan saat dirinya diundang oleh Nazaruddin di sebuah tempat di restoran Le Gourmet, Kemang, Jakarta Selatan.

Menurut Djenedjri, pertemuan dilakukan pada malam hari karena seingatnya  ketika itu dirinya usai memimpin rapat di gedung MK pad pukul 22.00 wib dan dari situ langsung berangkat ke Kemang, Jakarta Selatan.

Di ruangan restoran itu hanya berdua saja dan tak lama kemudian Nazaruddin  memberikan amplop dan langsung meninggalkan ruangan tersebut. Namun, Djanedjri berusaha untuk mengejar Nazaruddin yang bermaksud mengembalikan amplop tersebut.

Namun maksud tersebut malah dibalas dengan pernyataan Nazaruddin seperti ditirukan Djanedjri yang mengatakan, terima saja lah. Itu tanda persahabatan saya.  

Baru, keesokan harinya Djanedjri mengabarkan amplop berisi uang pemberian Nazaruddin itu kepada Mahfud sekaligus memerintahkan Djanedjri untuk mengembalikan uang tersebut.

Empat hari kemudian, tepatnya pada Senin, 27 September 2010 uang itu dikembalikan ke kediaman Nazaruddin yang diterima oleh Satpam rumahnya pada sekitar pukul 21.00wib. Untuk menyakinkan  bahwa uang tersebut sudah dikembalikan, Janedjri pun menyimpan tanda bukti penerimaan tersebut. Dalam surat tanda terima tersebut tertulis uang dikembalikan dalam satu buah paket buku bersampul cokelat.

Setelah itu, Djenedjri melakukan konfirmasi langsung kepada Nazaruddin melalui sambungan Ponselnya yang didengarkan langsung oleh sejumlah anggota rapat MK. Diakui Nazaruddin bahwa  duitnya telah diterima.  (bus)