Kamis, 14 November 2019 | 06:21 WIB
Korupsi
"Ada pemblokiran perbankan dan nonperbankan milik Nasaruddin, aset-asetnya berupa rumah dan perusahaan."
Aset Nazaruddin Dibekukan KPK
Rabu, 13 Juli 2011 | 16:21 WIB
Pimpinan KPK Bidang Pencegahan, Muhammad Jasin -
JAKARTA - Sejumlah aset berupa rumah dan perusahaan milik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin sudah dibekukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Ada pemblokiran perbankan dan nonperbankan milik Nasaruddin, aset-asetnya berupa rumah dan perusahaan," kata Pimpinan KPK Bidang Pencegahan, Muhammad Jasin, usai acara Pekan Olah Raga (POR) dalam rangka menyambut HUT Bhakti Adhyaksa 2011, di Kejagung, Jakarta, Rabu (13/7).

Mengenai berapa nilai aset Nazaruddin, Jasin belum mau mengungkapkannya. "Belum bisa itu (diketahui besaran nilainya), karena banyak," katanya. Kendati demikian, ia mengungkapkan aset-aset yang dibekukan itu tergolong dalam istilah bergerak dan tidak bergerak.

Sebelumnya KPK juga melakukan pemblokiran terhadap rekening milik para tiga tersangka kasus dugaan suap proyek pembangunan wisma atlet Jakabaring, Palembang lainnya.

"Blokir dilakukan kepada sebagian (rekening milik) M Nazaruddin dan tersangka lainnya," kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi, di Jakarta, Selasa (12/7).

KPK, untuk mendukung penyidikan kasus dugaan suap yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat ini, bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk melacak aset-aset yang dimiliki Nazaruddin guna membantu mencari tahu lokasi buronan ini.

Sebelumnya Johan mengatakan, KPK akan menggunakan cara apa saja, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk dapat mengembalikan Nazaruddin ke Tanah Air. Termasuk memblokir aliran dana Komisaris PT Anak Negeri ini.

Pelacakan seorang tersangka melalui aset-aset yang dimiliki, menurut dia, merupakan sesuatu yang juga selalu dilakukan KPK, namun tidak untuk pemblokiran.

KPK menetapkan Muhammad Nazaruddin sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi pembangunan wisma atlet untuk menampung peserta South East Asia (SEA) Games XXVI di Palembang, Sumatera Selatan.

Kendati demikian, Jasin menyatakan belum bisa menyebutkan nilai aset milik Nazaruddin yang dibekukan tersebut. [mad]