Senin, 18 November 2019 | 03:39 WIB
Korupsi
KPK sudah mempunyai teknik membuka mulut tersangka, M. Nazaruddin. Dalam penyelidikan itu ada dua teknik yang dapat digunakan oleh penyidik untuk menekan tersangkanya
Ada Dua Cara Buka Mulutnya M. Nazaruddin
Senin, 5 September 2011 | 13:11 WIB
Ketua Presidium IPW, Neta S Pane [foto-ist] -
Jakarta – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kurang cekatan dalam mengungkap kasus dugaan suap proyek pembangunan Wisma Atlet melalui keterangan Muhammad Nazaruddin.

Menurutnya, penyidik KPK sudah mempunyai kemampuan membuka mulut mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut yang selama ini dianggap kurang kooperatif.

Neta berpendapat penyidik KPK sudah mempunyai teknik membuka mulut tersangka. Dalam penyelidikan menurutnya ada dua teknik yang dapat digunakan oleh penyidik untuk menekan Nazaruddin. "Pertama, dengan teknik direct confrontation," ujar Neta kepada wartawan di Jakarta pada Senin (5/9).

Ia menjelaskan teknik direct confrontation dilakukan dengan menghadapkan Nazaruddin kepada nama-nama yang disebut dalam nyanyiannya, seperti anggota Komisi X DPR Angelina Sondakh dan Mirwan Amir. Keterangan Nazaruddin bisa dikonfrontasi dengan keterangan orang-orang tersebut.

"Dalam direct confrontation dapat dilakukan cross examination. Misalnya dengan Angelina Sondakh atau Anas Urbaningrum. Jika yang bersangkutan menyangkal dan tetap bungkam, tentu akan memberatkan Nazaruddin," jelasnya.

Teknik yang kedua, lanjut Neta, dengan metode psikologis kognitif. Di mana membuat kondisi tersangka seakan terpojok.

"Metode ini seperti menciptakan situasi yang membuat Nazaruddin terpojok atau dikenal dengan istilah defleksi. Dengan (cara) interograsi lebih dari 20 jam," papar aktivis yang concern mengawasi kinerja kepolisian ini.

Dikatakannya, standar teknik penyidikan tersebut pastinya sudah dikuasai penyidik KPK yang sebagian berasal dari anggota kepolisian. Yang menjadi masalah, kata dia, jika penyidik KPK diperintahkan atau diarahkan untuk sengaja mempersempit pengungkapan kasus tersebut. Sehingga aktor lain selain Nazaruddin tidak terseret dalam pusaran kasus itu.

"Masalahnya apakah penyidik diperintahkan untuk itu atau justru diarahkan untuk melokalisir dan menyempitkan pengungkapan, sehingga tidak meluas ke tersangka lain yang keterlibatan mereka lebih besar," imbuhnya.

Sebelumnya, Nazaruddin mengaku akan bungkam sampai pimpinan KPK memindahkannya dari Rutan Mako Brimbob, Kelapa Dua, Depok. Ia berjanji akan kooperatif kalau sudah dipindahkan ke LP Cipinang atau LP Tangerang. (duh)
  
  
TERPOPULER
Index +