Jumat, 19 Juli 2019 | 10:52 WIB
Korupsi
"Kami menjaga agar kami tidak terlalu banyak komentar terhadap pernyataan yang direproduksi oleh sekitar Nazar dan itu membikin kami terkecoh"
Tim Analisis & Advokasi KPK Untuk Tangkis Serangan OCK
Selasa, 20 September 2011 | 22:57 WIB
[foto-ist] -
Jakarta - Pekan lalu KPK mengumumkan membentuk Tim Analisis dan Advokasi Ketua Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). Tugas tim ini khusus untuk mengkonter dan menganalisis segala upaya-upaya untuk pelemahan lembaga super body ini.

Tugasnya tak hanya itu, tim ini nantinya pun akan menghadapi pernyataan-pernyataan terkait kasus yang menjerat mantan bendahara umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Perkara yang sedang ditangani KPK itu terkait kasus dugaan suap dalam proyek pembangunan Wisma Atlet di Palembang, Sumsel.    

Demikian yang dikatakan Ketua KPK, Busyro Muqoddas usai acara diskusi 'Pencegahan Korupsi di DPR' yang diselenggarakan oleh Fraksi PAN, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2011) petang.

“Kami menjaga agar kami tidak terlalu banyak komentar terhadap pernyataan yang direproduksi oleh sekitar Nazar dan itu membikin kami terkecoh. Itu yang kami hindari sehingga perlu dibentuk tim itu. Kalau harus menanggapi yang mulia OCK, waktunya habis sehingga kami jangan terlalu banyak minum vitamin OCK,” akuinya.
 
Busyro menambahkan  menampik pandangan Tim itu dibentuk karena KPK tak percaya diri. Menurutnya sepanjang KPK memproses semua kasus yang masuk kemudian ada progres yang bisa dilihat dan dipantau oleh wartawan dan publik berarti KPK tetap masih percaya diri.

“Kami bisa tanpa tim tapi kami terlalu menyiapkan waktu-waktu untuk menanggapi dan itu tidak produktif padahal kami harus menelaah bukti-bukti. Menguji korelasi bukti satu dengan bukti yang lain butuh waktu yang jernih,” terangnya.

Lagi pula, tegasnya pembentukan itu hanya agar kerja KPK tidak terganggu dengan berbagai opini miring yang memojokkan lembaga anti korupsi ini.
 
Tim Analisis dan Advokasi KPK yang terdiri dari 10 personil itu yakni Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto (sebagai koordinator), Lelyana Santosa, Alexander Lay, Taufik Basari, Ery Septiawan, Harjon Sinaga, Hamid Halid, Abdul Haris M Rum, Ari Yulianto Gema, Ahmad Maulana, dan Yogi Sudrajat. (bus)