Senin, 26 Agustus 2019 | 08:20 WIB
Korupsi
Terdakwa menilai, materi tuntutan yang diajukan jaksa tidak sesuai fakta
Kurator Penyuap Hakim Dituntut Tiga Tahun Enam Bulan
Jumat, 14 Oktober 2011 | 19:14 WIB
-
Puguh Wirawan, kurator PT Skycamping Indonesia (SCI) yang jadi tersangka kasus penyuapan hakim, Kamis (13/10), dituntut hukuman penjara 3 tahun enam bulan dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Selain hukuman penjara, tim jaksa yang dikomandani Zet Tadung Allo juga menuntut Puguh membayar denda sebesar Rp 150 juta atau subsider empat bulan kurungan, karena dianggap terbukti menyuap Hakim PN Niaga Syarifuddin.

"Menuntut agar Majelis Hakim menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana suap, sebagaimana diatur dalam dakwaan kesatu Pasal 5 ayat 1 huruf a jo Pasal 18 ayat 1 huruf a Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi," papar jaksa Zet.

Ditegaskan Jaksa, perbuatan Puguh memberi sejumlah duit ke Syarifuddin memang terkait penanganan harta pailit PT SCI, yaitu dua bidang tanah yakni SHGB 5512 atas nama PT SCI dan SHGB 7251 atas nama PT Tanata Cempaka Saputra, yang kini dimiliki advokat ternama, Otto Hasibuan.

Meski salah satu dari aset, yaitu SHGB 7251 masih dalam status boedel atau masuk dalam daftar harta pailit, Puguh meminta persetujuan kurator PT SCI lainnya, Khairil Poloan dan Michael Marcus Iskandar, untuk memberikan uang kepada hakim Syarifuddin.

"Maksud pemberian uang itu agar Hakim Syarifudin menyetujui penjualan aset boedel pailit SHGB 7251 dengan mekanisme non-boedel pailit, bahwa nanti kalau terdakwa mendapatkan fee, maka akan memberikan perhatian kepada Syarifudin berupa uang sebesar Rp 250 juta," ungkap Jaksa Zet.

Perbuatan terdakwa ini menurut jaksa telah merugikan kreditur PT SCI, merusak citra kurator atau advokat yang merupakan bagian dari penegak hukum, merendahkan martabat hakim dan merusak citra peradilan, serta berbelit-belit dalam menjelaskan motif pemberian uang kepada hakim pengawas.

Sedangkan yang meringankan, Puguh dinilai menyesali perbuatannya, belum pernah dihukum sebelumnya, dan punya tanggungan keluarga.

Menanggapi tuntutan tersebut, seusai sidang Puguh mengaku sangat kecewa. Dia menilai, materi tuntutan yang diajukan jaksa tidak sesuai fakta. "Saya kecewa. Ini kan tak ada kerugian negara," tegasnya.

Dia juga menilai aneh pendapat jaksa yang menganggapnya berbelit-belit memberikan keterangan saat persidangan. "Sejak awal kan saya sudah mengakui memberi uang ke Syarifuddin. Tapi mungkin JPU tidak menemukan motifnya, jadi menilai saya berbelit-belit," tukas Puguh.

Puguh juga membantah uang Rp 250 juta diberikan agar Syarifuddin menyetujui penjualan aset dengan status non-budel pailit, bukan pailit seperi yang dituduhkan jaksa. Menurutnya, sampai akhirnya uang dia berikan ke Syarifuddin pun, kedua pihak masih berseberangan pendapat soal status aset.

Dia menambahkan, akan mematahkan semua tuntutan jaksa tersebut dalam pledoi yang rencananya akan digelar Kamis pekan depan. (buj/dom)