Sabtu, 25 Januari 2020 | 12:35 WIB
Mingguan
The Pe Er
Sabtu, 14 Mei 2011 | 14:59 WIB
-
Mungkin sekarang wakil rakyat kita yang sedang bersidang sudah tak banyak lagi yang tertidur, seperti sentilan syair lagu Iwan Fals. Tapi bukan berarti, kinerja para anggota dewan ini lebih baik lho, meski mereka tak lagi terlelap ketika sidang soal rakyat.

"Mereka memang sudah gak ngantuk lagi, tapi sekarang penyakitnya budeg (tuli-red)," ujar seorang kawan, saat kami menghabiskan waktu malam minggu kecil di salah satu cafe, di Selatan Jakarta.   

Teman yang hari-harinya bekerja sebagai Public Relation di salah satu hotel berbintang ini menceritakan anekdot seorang anggota dewan dengan seorang dokter. Saat itu, ceritanya, seorang anggoat dewan yang baru terpilih menemui dokter pribadinya. Dia meminta resep agar bisa tahan melek. "Saya gak mau dikiritik jadi tukang tidur. Saya harus terlihat hebat, kalau lagi sidang dan diliput televisi," pinta sang anggota dewan itu.

Syahdan, akhirnya dokter pun memberikan obat yang paling mujarab, tentu saja dengan harga yang puluhan kali lipat dari obat generik. "Minum sehari satu aja, biar kuat melek. Jangan lebih. Obat ini bisa nahan kantuk 24 jam,' jelas sang dokter.

"Mungkin karena kelebihan dosis, anggota dewan ini jadi kuat melek, tapi efeknya budeg, jadi wajar aja kalau sekarang mereka gak dengar suara rakyat," ujar kawan saya,disambut derai tawa.
     
Cerita kawan ini menyindir The Pe Er (baca; DPR-red) sekarang yang asyik mengamburkan uang rakyat dengan plesiran ke luar negeri, membangun gedung baru sampai untuk bertelepon ria.

"Semua pakai uang rakyat, tapi gak mau dengar aspirasi rakyat," ketus kawan itu.

"Lebih gila lagi, udah dibayarin rakyat. Korupsi pula," sambung teman lainnya.

"Tapi kok bisa yah, mereka seperti merasa tak berdosa sama rakyat. Tetap merasa dirinya hebat dan benar ?"

Saya yang dari tadi lebih banyak jadi pendengar, akhirnya tergelitik juga untuk mengeluarkan suara, menjawab tanya itu. "Soalnya, mereka udah yakin meski sekarang dicemooh, didemo, dicerca, tapi nanti saatnya pemilu, mereka juga akan dipilih rakyat. Cukup modal cepek ceng (Rp100 ribu) per orang, rakyat lupa kalau sudah tersakiti dan memberikan mereka banyak uang, " ucap saya sekenanya.

"Kalau gitu, siapa dong yang bodoh?" tanya tiag kawan saya serempak. 'Mbohhh...." (zhank's)