Rabu, 19 Februari 2020 | 11:26 WIB
Surono: Letusan Gunung Slamet tidak Sebesar Merapi
Minggu, 14 September 2014 | 03:35 WIB
Ilustrasi -

Skalanews - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral Surono mengatakan letusan Gunung Slamet tidak akan sebesar letusan Gunung Merapi pada 2010.

"Jika dilihat dari skala letusanya, dua gunung itu sangatlah berbeda. Letusan Gunung Slamet tidak heboh. Ya dari dulu letusannya ya begitu-begitu saja. Jadi jangan membuat masyarakat takut," kata Surono di Sleman, Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, berdasarkan catatan letusannya, sejak 1772 erupsi Gunung Slamet tidak pernah melebihi "Volcanic Eruption Index II".

"Artinya secara total dalam satu periode letusan Gunung Slamet maksimum hanya sekitar dua juta meter kubik material vulkanis yang dilepaskan," katanya.

Ia mengatakan, dengan kondisi tersebut maka kawasan rawan bahaya radius empat kilometer dari puncak gunung.

"Jika dibandingkan dengan Gunung Merapi, letusan Gunung Slamet? belumlah mencapai seperseratusnya," kata dia.

Surono mengatakan, Gunung Merapi yang pada 2010 meletus besar, masuk dalam skala "Volcanic Eruption Index IV".

"Sedangkan Gunung Slamet belum pernah melewati 'Volcanic Eruption Index II'. Skala letusan dua ke tiga, itu 10 kali lipat, lalu dua ke empat seratus kali lipat. Artinya selama ini Slamet belum melewati seperseratusnya Merapi," katanya.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik dengan kehebohan suara dentuman yang terdengar hingga cukup jauh ataupun besarnya cahaya lava pijar yang terlihat di Gunung Slamet.

"Sampai dengan saat ini ancaman bahaya Gunung Slamet tetap di radius empat kilometer dari puncak. Sekarang ini lebih banyak kehebohan tentang dentumannya kedengaran sekian kilometer, material pijarnya kelihatan berpijar besar, tapi bahayanya tetap radius empat kilometer," jelasnya.

Melakukan langkah antisipasi dengan persiapan pengungsian, kata dia, itu satu hal yang harus dilakukan. Namun untuk mengambil langkah-langkah yang terukur dan tepat haruslah mempelajari karatakteristiknya.

"Yang dihebohkan, suara dentumannya lalu ada asap bulat mirip gambar bebek, padahal jarak radius bahayanya empat kilometer. Kenapa? Karena kita memang suka heboh," katanya. (ant/mar)