Selasa, 20 November 2018 | 06:59 WIB
BPPT dan Dewan Karet Persiapkan Hilirisasi Karet
Rabu, 1 Oktober 2014 | 06:44 WIB
Gedung BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) -

Skalanews - Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Dewan Karet Indonesia mempersiapkan hilirisasi industri karet di Indonesia melalui pilot project yang dikembangkan di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

"Kami buat MoU, Dewan Karet Indonesia dengan BPPT, karena gerah tangani karet di sini tapi tidak berubah-berubah. Harapannya hilirisasi bisa berjalan setelah ini," kata Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane disela-sela Focus Group Discussion di BPPT, Jakarta, Selasa.

Indonesia memproduksi karet alam tiga juta ton per tahun, dan 450.000 ton dimanfaatkan produsen ban global sedangkan sisanya diekspor. Karena itu, dibutuhkan sentuhan teknologi untuk memberikan nilai tambah karet alam yang dihasilkan sehingga tercipta produk yang berdaya saing dipasaran.

"Malaysia juga produsen karet alam, tetapi mereka juga terkenal sebagai produsen sarung tangan karet secara global. Kita harus bisa mencari bentuk industri nasional yang produk karetnya dapat dikenal secara global, ini sangat perlu dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN," ujar dia.

Pemberian nilai tambah dari karet alam sangat diperlukan, karena penemuan atau penciptaan produk untuk dapat menjadi produk karet internasional harus dilakukan sehingga pasar terbentuk.

Azis mencontohkan produk karet yang dapat dikembangkan untuk dapat membanjiri pasar global seperti mainan khusus untuk anak-anak autis yang berbahan dasar karet, dan mainan karakter dinosaurus berbahan dasar karet.

"Kendala modal juga harus diselesaikan. Seharusnya dalam FGD ada perwakilan dari perbankan, bagimana pun mereka (perbankan) juga harus bergerak," ujar dia.

Kepala Bidang Polimer Rekayasa BPPT Dodi Andiwinarto mengatakan Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, merupakan produsen karet terbesar. Tetapi tidak ada produk hilir dari industri karet dari tempat tersebut.

BPPT bersama dengan Dewan Karet Indonesia membuat klaster-klaster di OKI yang memanfaatkan peralatan yang sudah diberikan Kementerian Perindustrian untuk menciptakan industri hilir karet baru. Sentuhan teknologi akan diberikan BPPT agar utilisasi produk karet dari bahan alam tercipta dan dapat dipasarkan di sana.

"Harapannya supaya daerah lain bisa 'tertular' (mengembangkan klaster industri hulu--hilir karet)," ujar dia.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Material BPPT Eniya Listiani Dewi mengatakan BPPT memberikan rekayasa bioteknologi untuk meningkatkan produksi karet alam dari setiap meter persegi lahan.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi karet alam dengan menerapkan sistem klon unggul tanaman karet, mencari bibit unggul yang mampu meningkatkan hasil sadapan. (ant/mar)