Minggu, 23 Februari 2020 | 18:09 WIB
"Kami dipukul dan hidung kami dijepit oleh guru, karena tidak bisa menghapal 33 provinsi di Indonesia ini."
Guru di Binjai Tega Pukul dan Jepit Hidung Murid
Jumat, 16 September 2011 | 19:17 WIB
Korban, Putra dan Dwi saat memberikan keterangan atas penyiksaan yang dilakukan guru kelasnya sendiri [foto-sumutpos] -
BINJAI, SUMATERA UTARA - Sungguh tidak bisa diterima akal sehat. Hanya karena murid tidak dapat menghafal 33 provinsi yang ada Indonesia, seorang guru di sekolah SD Negeri 023896 kota Binjai Sumatera Utara tega menghukum sembilan muridnya dengan memukul dan menjepit hidungnya.

"Kami dipukul dan hidung kami dijepit oleh guru, karena tidak bisa menghapal 33 provinsi di Indonesia ini," kata salah seorang siswa, Riyan, di Binjai, Jumat (16/9).

Buntutnya, para orang tua siswapun mendatangi sekolah, dan melakukan protes atas perlakukan guru berinitai Er tersebut. Tidak hanya itu, para orang tua siswa itu juga meminta pertanggungjawaban kepala sekolah, atas perlakukan guru yang kasar tersebut kepada anak mereka.

"Tidak hanya menjepit hidung para siswa, sang guru juga memukul, tangan dan kaki siswa, dengan penggaris dari kayu," kata Riyan menegaskan.

Ia menurutkan, awal kejadian tersebut bemula pada Kamis (15/9) kemarin. Ketika itu sang guru berinitial Er, yang merupakan guru kelas enam SD 023896 itu, menyuruh satu persatu siswa, mengucap nama-nama provinsi di Indonesia.

"Kamipun lalu maju ke depan satu persatu, menyebut nama provinsi, namun tepat kepada giliran kami yang sembilan orang, kami tidak bisa menyebutkannya. Kami dipukul dan dijepit hidung," katanya.

Karena tak dapat menghapal provinsi yang ada di Indonesia, kesembilan siswa lalu dihukum lalu dihukum, termasuk Riyan.

Atas desakan para orang tua siswa itu, akhirnya kepala sekolahpun berinisiatif untuk melakukan perdamaian dengan orang tua siswa yang dikenakan hukuman oleh sang guru.

"Kami melakukan perdamaian, dan segala perobatan terhadap para siswa ditanggung," kata Aslamiyah Hasibuan, salah seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Mudah-mudahan masalahnya sudah selesai, dan tidak ada lagi hal yang harus diperuncing, karena sudah melakukan perdamaian, katanya.

Sementara itu oknum guru pemukul berinitial Er, ketika perdamaian dilakukan tidak berada ditempat, ketika perdamaian itu dilaksanakan. [mad]