Sabtu, 19 Januari 2019 | 07:25 WIB
Meski kegempaan Gunung Anak Krakatau relatif kecil sehingga tidak memicu tsunami, warga sekitar harus tetap waspada.
Gempa Vulkanik Anak Krakatau takkan Memicu Tsunami
Rabu, 12 Oktober 2011 | 22:51 WIB
foto: minoanatlantis.com -
Skalanews - Kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau dinilai tidak akan berpotensi memicu tsunami. Karena itu, petugas pemantau gunung api meminta warga sekitar untuk tidak perlu khawatir dengan aktivitas gunung di perairan Selat Sunda tersebut.

"Kegempaan Gunung Anak Krakatau memiliki kekuatan rendah sehingga sangat kecil berpotensi menimbulkan tsunami," kata Petugas Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suardi di Rajabasa, Rabu (12/10).

Walaupun kegempaan relatif rapat, namun menurut dia, kekuatan kegempaannya masih relatif rendah. Sebab, hal itu berasal dari dapur magma gunung tersebut.

Akan tetapi, ditegaskan Andi, jika terjadi erupsi kecil maka kegempaan tersebut tidak akan serapat saat ini lagi. "Kegempaan karena dapur magma tertutup hingga tidak mengeluarkan letusan-leusan dan lava pijar seperti tahun lalu," terangnya.

Kendati demikian, ia meminta warga sekitar agar tetap waspada. Mengingat berbagai kumungkinan yang akan terjadi. Hal itu, penting untuk keselamatan bersama. Karena itu, ia juga mengharapkan para nelayan tetap menjaga jarak aman radius tiga kilometer dari gunung tersebut.

Kemungkinan tersebut, lanjut Andi, adalah saat terjadinya erupsi yakni lontaran-lontaran material vulkanik dan awan panas dari perut gunung tersebut yang jangkauannya biasanya hanya sekitar gunung itu.

"Meskipun gunung tersebut meletus namun kemungkinan letusan besar juga sangat kecil mengingat tahun lalu rutin mengeluarkan material vulkaniknya," tuturnya.

"Sementara itu, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda masih stagnan dalam dua hari terakhir pada kisaran antara empat sampai lika kali per menit. Gempa vulkanik GAK masih pada hitungan 5.760 per hari atau selama 24 jam," katanya lagi.

Aktivitas gunung tersebut, beber dia, biasanya cenderung fluktuatif yang terkadang turun dalam beberapa hari kemudian naik dalam beberapa hari dan hal tersebut sudah menjadi aktivitas biasa.

"Status gunung tersebut masih tetap pada level siaga dari sebelumnya dengan level waspada sejak akhir bulan lalu," katanya.

Hinggga saat ini, And menambahkan, gunung tersebut tidak menunjukkan adanya aktivitas letusan dan semburan-semburan material vulkanik berupa batu atau debu dari dalam dapur magma gunung setinggi sekitar 230 meter dari permukaan laut itu.

Selain itu, tutur dia pihaknya saat ini belum dapat memastikan aktivitas selanjutnya, apakah akan terjadi letusan dan semburan-semburan material vulkanik yang jelas aktivitas dapur magma masih cukup tinggi. (mad)