Sabtu, 18 Januari 2020 | 02:45 WIB
Setelah penandatangan MoU, akan dilanjutkan dengan mengadakan dialog bersama komunitas tenaga ahli Belanda yang bekerja di Indonesia.
Jakarta-Rotterdam Fokus Tangani Banjir
Selasa, 1 Februari 2011 | 20:18 WIB
-
Kerjasama sister city antara Jakarta -Rotterdam pada 2011-2012 lebih memfokuskan pada program penanggulangan banjir.  

“Kita akan mendapatkan masukan bagaimana negara Belanda bisa berhasil menangani banjir dengan baik,” ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, usai menerima kunjungan kehormatan Dubes Belanda di Balaikota, Selasa (1/2/2011).

Hubungan erat antara Jakarta dan Rotterdam yang terjalin dalam kerjasama sister city sudah terjalin sejak 2005 lalu. Selama periode 2005 sampai 2010, kerjasama ini hanya sebatas pada pelayanan adminsitrasi kota dan manajemen.  

“Pada 7 Februari mendatang, kita akan melakukan penandatanganan MoU untuk melanjutkan kerja sama sister city antara Jakarta dan Rotterdam. Sebelumnya kita sudah melakukan kerja sama sister city periode 2008-2010. Sekarang kita lanjutkan hingga 2012,” kata Fauzi Bowo.

Fauzi Bowo melanjutkan, sebagian besar wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Sehingga, Belanda memiliki pengalaman dan ahli dalam manajemen air ketika menghadapi banjir dan badai.

Fauzi berharap kedatangan ahli manajemen air dari Rotterdam dapat memberikan second opinion mengenai strategi dan kebijakan manajemen air.

Sebab Kota Jakarta tengah menghadapi berbagai permasalahan di antaranya bencana banjir, mengingat 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut dan dikelilingi 13 sungai serta adanya penurunan permukaan tanah.

Gubernur menambahkan, setelah penandatangan MoU, akan dilanjutkan dengan mengadakan dialog bersama komunitas tenaga ahli Belanda yang bekerja di Indonesia.

Kemudian Walikota Rotterdam juga akan mengikuti seminar tentang pertahanan kota terhadap banjir. Dalam seminar ini akan diperdalam rencana Pemprov DKI membangun giant sea wall atau tanggul laut raksasa.

Terkait pembangunan giant sea wall di kawasan Jakarta Utara, Pemprov DKI akan melakukan pemetaan atau atlas sebagai tahap awal perencanaan Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS).

“Saya puas dengan kinerja para ahli atas terciptanya atlas yang memetakan kondisi seluruh wilayah ibu kota. Setelah melihat dokumen ini isinya cukup luar biasa karena bisa memberi gambaran. Kami jadi terinspirasi membuat atlas lain di sektor transportasi atau kesehatan," tambah Sarwo Handayani, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta.

Pihaknya berjanji akan membantu melengkapi data-data yang dibutuhkan sehingga final draft atlas JCDS tersebut bisa rampung pada 24 Mei 2011. Ia juga melihat perlunya replanning atau perencanaan ulang mengingat proyek reklamasi pantai utara Jakarta pertama kali dilaksanakan pada 1995.

“Replanning ini sangat penting diperbarui, karena selama kurun waktu 15 tahun, pasti sudah ada nilai-nilai baru yang berkembang. Salah satunya terkait pembiayaan yang pasti juga berkembang,” tandasnya. ()