Selasa, 23 April 2019 | 13:27 WIB
Jangan-jangan selama ini modus KPK begitu, celaka kalau begitu. Namun, KPK sebagai lembaga harus diselamatkan
Celaka, Bila KPK Dijadikan Kendaraan
Sabtu, 30 Juli 2011 | 00:31 WIB
foto.eddytarigan-skalanews -
Jakarta - Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menilai, kali ini masyarakat tidak akan lagi memberikan dukungan kepada Cicak alias Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, dua kali isu yang menerpa KPK, dua kalinya pula menyebutkan nama pimpinan KPK yang sama.

"Kita memberi perhatian khusus kepada KPK. Lembaga (KPK) ini kan mendapat dukungan luar biasa dari masyarakat. Contohnya, dulu kasus Bibit S Riyanto dan Chandra M Hamzah dan publik berhasil. Sekarang episode ke-2, lagi-lagi nama Chandra muncul. Sehingga pertanyaan yang muncul, ada apa dengan Chandra," tegas Sebastian saat jumpa pers di Matraman, Jakarta, Jumat (29/7).

Apalagi, tambah Sebastian, kendati lembaga komite etik telah membentuk di KPK namun beban lembaga tersebut sungguh berat. Karena orang-orang yang dipilih untuk duduk di lembaga itu lebih banyak dari internal KPK. Sehingga sangat berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.

"Pertanyaannya adalah apakah sanggup atau beranikah orang-orang itu membongkar kasusnya? Karena orang-orang yang diperiksa juga berasal dari internal KPK sendiri," tandas Sebastian pesimis.
 
Bahkan, Ia pun mengingatkan, komite itu jangan menjadi ajang upaya mengaburkan persoalan sesungguhnya.

Sebastian mengatakan, hal lain yang perlu dicermati dari pernyataan M Nazaruddin yang mengatakan bertemu dengan Chandra. “Ini seolah-olah menegaskan KPK memang melakukan tebang pilih dalam pemberantasan korupsi. Celaka kalau sudah begitu,"tambah Sebastian.

Sebab lembaga yang diharapkan membongkar praktek korupsi ternyata dalam pelaksanaannya tidak begitu. "Jangan-jangan selama ini modus begitu. Celaka kalau begitu. Menurut saya KPK sebagai lembaga harus diselamatkan," ujarnya.

Sebelumnya Nazaruddin kembali 'bernyanyi' dengan mengatakan, dirinya pernah bertemu dengan Ade Rahardja, Deputi Penindakan KPK yang didampingi dengan Johan Budi SP, Juru Bicara KPK di salah satu restoran di Apartemen Casablanca pada Januari 2010.

Nazaruddin sendiri mengaku, didampingi koleganya di DPR, Saan Mustopa. Pertemuan kedua kembali berlanjut di tempat yang sama sekitar Juni 2010. Kali ini Ade ditemani oleh stafnya yang bernama Roni.

Selain itu, mantan bendahara partai berlambang Mercy itu juga menyebutkan, Chandra bersama Ade pernah bertemu dengan Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat sekitar Juni 2011 lalu. [kgi]