Rabu, 17 Oktober 2018 | 02:11 WIB
"Fatwa ini hadir karena keprihatinan MUI terhadap masalah lingkungan dan berdasarkan pengamatan yang mendalam."
Ini Dia Fatwa MUI Soal Pertambangan Ramah Lingkungan
Rabu, 27 Juli 2011 | 11:15 WIB
Ketua MUI Ma'ruf Amin -
JAKARTA - Sebagai upaya merespon kondisi lingkungan yang semakin memprihatikan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan fatwa mengenai pertambangan ramah lingkungan 

"Fatwa ini hadir karena keprihatinan MUI terhadap masalah lingkungan dan berdasarkan pengamatan yang mendalam," kata Ketua Bidang Fatwa MUI, Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu (27/7).

Kerusakan dalam pandangan Islam, beber dia, terbagi dalam dua kategori, yakni kerusakan moral dan material. Yang merupakan ruang lingkup kerusakan moral adalah kerusakan terhadap alam. Karena itu moralnya sesegera mungkin diperbaiki.

Ditegaskan Ma'ruf, pertambangan boleh dilakukan sepanjang demi kepentingan masyarakat umum. Selain itu, tidak membawa kerusakan, yang artinya ramah bagi lingkungan.

"Menurut MUI, lingkungan kita sudah cukup rusak. Dalam agama, jika terjadi kerusakan harus ditangkal," ujarnya.

Dalam perpektif Ma'ruf, kehadiran Islam untuk memberikan solusi dan memperbaiki keadaan. Secara prinsip, Islam membangun kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan, paling tidak mengoptimalkan kebaikan dan meminimalkan kerusakan.

"Kita lihat eksplorasi terhadap sumberdaya alam berlebihan dan menimbulkan kerusakan. Bahkan jangan-jangan sumberdaya alam kita diambil untuk keuntungan pihak-pihak tertentu bukan kemaslahatan umat," tandas Ma'ruf. [mad]