Kamis, 5 Desember 2019 | 21:30 WIB
"Sampai saat ini tidak ada indikasi spesifik akan terjadi. Tapi saya tidak katakan tidak ada kemungkinan aksi teror. Namun kita selalu waspada."
Peringatan 9/11 Belum Terindikasi Adanya Teror
Jumat, 9 September 2011 | 18:40 WIB
Kepala BNPT Ansyaad Mbai - Mediainddonesia.com -
NUSA DUA, BALI - Menjelang 10 tahun peringatan 11 September (11/9), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan belum ada indikasi kegiatan teroris di Indonesia. Kendati demikian, pihaknya memnita namun aparat keamanan tetap waspada.

"Sampai saat ini tidak ada indikasi spesifik akan terjadi. Tapi saya tidak katakan tidak ada kemungkinan aksi teror. Namun kita selalu waspada," kata Kepala BNPT Ansyaad Mbai di Nusa Dua, Bali, Jumat (9/9).

Sebelumnya Pemerintah AS mengingatkan warganya untuk senantiasa waspada terhadap serangan teroris. Peringatan ini dikemukakan oleh Menhan AS Leon Panetta menjelang peringatan 10 tahun serangan ke menara kembar WTC di New York.

Dalam kurun waktu belakangan ini, Ansyaad mengakui, dirinya kerap ditanyai wartawan luar negeri yang inti pertanyaan sama, yakni kemungkinan serangan teroris di Indonesia jelang peringatan serangan terhadap WTC.

Ditegaskan dia, terorisme yang ada di luar negeri jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Karena, memang ketergantungan teroris di Indonesia tidak pada peristiwa 11 September. "Karena karakteristiknya beda," katanya menegaskan.

Untuk ideologi internasional, Ansyaad menjelaskan, sangat dipengaruhi oleh sosok Osama Bin Laden. Sedangkan aktivitas radikal di Indonesia jauh sebelum Osama bin Laden ada, tlah lebih dulu eksis. Namun, katanya, hal itu bukan berarti Indonesia tidak waspada.

Musuh teroris di Indonesia juga bukan hanya Barat namun juga aparat dan pemerintah. "Kita tetap waspada untuk melindungi kepentinghan kita, melindungi masyarakat," katanya lagi.

Sebelumnya Ansyaad Mbai mengatakan sekitar 80-90 persen pengunjung situs radikal di Asia Tenggara (Asteng) berasal dari Indonesia sehingga perlu upaya mengatasi hal tersebut. "Di Asia Tenggara ada puluhan situs yang digunakan untuk kampanye, sebagai corong kelompok radikal. Dari puluhan ini ternyata pengunjung situs, 80-90 persen adalah dari Indonesia," katanya.

Dengan tingginya angka tersebut, kata Ansyaad maka resiko masyarakat Indonesia untuk dipengaruhi ideologi radikal sangat besar. "Oleh karena itu masalah ini perlu diperhatikan," katanya.

Seminar yang dilakukan 8-9 September diikuti lebih dari 200 orang dari 20 negara. Peserta berasal dari institusi pemerintah, LSM, akademisi, institusi "counter terroism", duta besar dan pejabat kedubes lainnya. [mad]

  
  
Berita Terkait: