Jumat, 18 Januari 2019 | 16:55 WIB
"Konsumsi protein masyarakat Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia dan Vietnam."
Masyarakat Indonesia Minim Konsumsi Protein
Jumat, 28 Oktober 2011 | 23:37 WIB
ilustrasi -
Skalanews - Konsumsi protein masyarakat Indonesia sampai saat ini masih rendah dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Demikian disampaikan Ketua asosiasi rumah potong unggas Indonesia Achmad Damawi.

"Konsumsi protein masyarakat Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia dan Vietnam," kata Damawi Kamis

saat konferensi pers pada acara kampanye konsumsi yang diselenggarakan oleh JAPFA Comfeed Indonesia TBK di SDN 1 Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (28/10).

Beberapa makanan penghasil protein yang tingkat konsumsinya jauh di bawah Malaysia adalah ayam dan telur.

Untuk Indonesia konsumsi ayam perkapapita setiap tahunnya hanya 7kilogram, sementara Malaysia 36 kg/kapita/tahun. Selain itu untuk konsumsi telur masyarakat Indonesia hanya 87 butir/kapita/tahun jauh di bawah masyarakat Malaysia yang konsumsi telurnya 288 butir/kapita/tahun.

"Sebenarnya target pemerintah untuk standar gizi nasional untuk konsumsi telur 720 butir/kapita/tahun dan daging ayam 40kg/kapita/tahun," tambahnya.

Karena itu, ia berupaya meningkatkan konsumsi protein dengan cara memberikan pasokan makanan berprotein kepada masyarakat Indonesia contohnya yang dilakukan kepada ribuan anak di Sukabumi.

Namun, produk ayam dan telur yang dihasilkan oleh perusahaan ini hanya bisa melayani kebutuhan nasional sebesar 15 persen saja. Maka dari itu, pihaknya juga akan bekerjasama dengan pemerintah dan pengusaha makanan berprotein untuk bersama-sama meningkatkan konsumsi protein masyarakat Indonesia.

"Kami ingin membiasakan masyarakat khususnya untuk para orang tua agar membiasakan memberi anaknya makanan berportein untuk masa depannya agar sehat cerdas dan perkembangan otaknya cepat," kata Damawi.

Selama ini menurutnya, orang tua lebih mementingkan penampilannya saja namun tidak memperhatikan asupan gizinya. Seperti konsumsi rokok yang mencapai 1.180 batang rokok/kapita/tahun padahal harga rokok lebih mahal dibandingkan harga daging ayam dan telur.

"Kami ingin merubah kebiasaan masyarakat seperti ini karena dengan tingginya mengonsumsi protein bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju dan unggul," ujarnya.

"Dari penelitian Universitas Indonesia usia anak 0-10 tahun sangat membetuhkan asupan gizi yang tinggi untuk perkembangan otaknya," tambah Damawi. [mad]