Rabu, 26 Februari 2020 | 20:12 WIB
Politik
Jero Bantah Tawarkan JK Ikut Konvensi Demokrat
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 06:10 WIB
Jero Wacik - [dok.skalanews]

Skalanews - Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Jero Wacik mengaku tidak membicarakan persoalan konvensi calon Presiden partainya saat datang ke acara open house di rumah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Melainkan dirinya hanya membicarakan nostalgia masa lalu saat akan diangkat sebagai menteri dalam kabinet bersatu jilid I.

"Kita ngobrol masa lalu. Bagaimana saya pertama kali menjadi Menteri di era SBY-JK seru itu perjuangannya," ujar Jero saat ditemui wartawan di kediaman JK di jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (9/8).

Dirinya juga menegaskan, bahwa kedatangannya tidak ada hubungan dengan konvensi Capres PD. "Enggak ada hubungannya, kalau konvensi Demokrat itu hubungannya dengan  elegibelitas (elektabilitas, red.)," ungkapnya.

Namun hal itu, sangatlah berlainan dengan yang diungkapkan JK. Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini malah mengaku bahwa kedatangan Jero untuk menjelaskan persoalan konvensi.

"Ya, dia menjelaskan. Sebagai pengurus teras Demokrat kan tentu menjelaskan," ungkap JK.

Meski tidak menyebutkan bahwa dirinya ditawarkan untuk konvensi. Tetapi, sebagai politisi senior. JK mengaku, paham maksud Jero. "Yah kita pahamlah maknanya," tuturnya.

Seperti diketahui, lambannya proses konvensi PD ini membuat, banyak pengamat menilai bahwa acara ini hanyalah tebaran isu politik dari partai usungan SBY tersebut untuk meningkat elektabilitas.

Bahkan, Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai,  konvensi PD tidak penting untuk bangsa secara umum.

Sebab, publik akan semakin antipati terhadap pemilu. "Saya menduga bukan rasa simpatik pemilih yang akan dituai partai PD dengan penyelenggaraan kongres ini tetapi antipati," ujarnya kepada wartawan, Rabu (7/8) lalu.

Dengan demikian, lanjutnya, jika isu konvensi terus menjadi wacana tanpa ujung yang jelas dalam waktu dekat, akan tetapi semakin memperpanjang skeptisme publik pada pemilu mendatang.

"Apalagi jika dalam pelaksanaannya kongres ini justru mempertontonkan tipu daya politik biasanya, maka rakyat akan bertambah muak dengan hajatan pemilu," tandasnya.

Lucius mengatakan, bahwa konvensi memang belum menjadi tradisi di negara ini. Hal ini erat kaitannya dengan kematangan parpol yang belum tercipta sampai sekarang. Konvensi tidak dipandang sebagai sebuah proses demokratis untuk menyeleksi pemimpin, tetapi hanya sebagai kontestasi parpol demi merebut simpati publik.(bismarizal/bus)