Rabu, 26 Februari 2020 | 10:46 WIB
Politik
Kalau yang dosanya banyak langsung di drop.
Mutasi dan Promosi Hakim Tergantung
Rabu, 30 Maret 2011 | 18:49 WIB
-
Jakarta - 'Dosa' yang dilakukan para hakim saat bertugas ternyata jadi penilaian dalam proses mutasi dan promosi yang dilakukan Mahkamah Agung (MA). "Kalau yang dosanya banyak langsung di drop. Kalau ada dosa-dosa harus ditebus," kata Ketua Muda Pengawasan MA, Hatta Ali, seusai seminar Ultah ke 58 Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) di Hotel Red Top, Jakarta, Selasa, (29/3).

Untuk mengungkap dosa-dosa hakim, ujar Hatta, maka dilibatkan bagian pengawasan dalam kualifikasi tahap pra Tim Promosi dan Mutasi (TPM) Hakim. "Nanti dilihat, pernah dijatuhi hukuman atau tidak menjalankan hukuman yang dijatuhkan, menjadi perhitungan tersendiri buat menentukan karir sang hakim," ungkapnya.

Selain itu, anggota Pra-TPM juga bisa menduga terjadinya pelanggaran oleh hakim meski tidak terbukti. Indikatornya adalah banyaknya pengaduan yang sampai ke hakim bersangkutan. "Artinya cukup ada dugaan pelanggaran," tukas Hatta.

Dijelaskan Hatta, proses pemberian mutasi dan promosi berlapis, keputusannya tidak hanya diberikan Tim Promosi dan Mutasi Hakim (TPM) yang ada di Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum MA, melainkan ada kualifikasi tahap sebelumnya, yakni pra TPM.

Pra -TPM dipimpin oleh Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial Ahmad Kamil. Anggotanya terdirinya dari Ketua Muda Bidang Pengawasan, Ketua Muda Pembinaan, Ketua Muda Pidana Khusus, Direktur Jenderal Peradilan Umum, Kepala Bagian Pengawasan, Direktur Pembinaan dan satu orang hakim agung Rehngena Purba yang untuk soal gender.

Dengan pengawasan yang berlapis ini, Hatta membantah jika ada kabar yang menyebutkan mutasi dan promosi hakim diperjualbelikan. "Tidak ada itu," tegasnya. (zhank's)