Sabtu, 24 Agustus 2019 | 18:21 WIB
Politik
Dinamika politik nasional yang tercendrung menegang menjadi pembahasan strategis.
PDIP Susun Strategi Politik di Rakornas III
Rabu, 27 Juli 2011 | 17:15 WIB
Ketua Umum PDIP, Megawati Seokarno Putri -
Manado - Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) III PDI Perjuangan hari ini dimulai penyelenggaraannya hingga besok. Dibuka oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Rakornas diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara.

Dalam pidatonya, Mega menegaskan kalau partai tidak mau terburu-buru menentukan siapa calon presiden yang akan diusung pada Pilpres 2014 mendatang. Menurut Presiden RI kelima ini, partainya akan menentukan capres pada saatnya tiba nanti.

"Itu ada di dalam rumusan keputusan kongres. Jadi nantinya ada saatnya PDI Perjuangan akan memberikan suatu akses calon-calon siapa gerangan yang akan dijadikan calon," katanya.

 Sekedar di ketahui, Rakornas partai belambang banteng bermoncong putih bertepatan dengan tragedy 27 Juli 1996. Untuk itu, putrid mendiang Presiden Soekarno ini memimpin langsung peserta Rakornas untuk menghentingkan cipta bagi para korban penyerangan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58 pada 27 Juli 1996.

"Karena ini adalah tanggal 27 juli, yaitu peristiwa yang memprihatinkan telah berjalan pada waktu itu dan memang pada sampai sekarang belum dapat diselesaikan dengan baik," ujarnya.

Di tempat yang sama, Sekjen DPP PDIP, Tjahjo Kumolo menjelaskan kalau Rakornas kali ini bertema 'Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat'  yang bersifat internal dan terbatas.

“Di Rakornas ini, partai akan menyusun strategi politik ke depan dengan mencermati dinamika, gelagat, perkembangan baik di internal maupun eksternal partai. Serta evaluasi hasil atau rekomendasi Rakornas I dan II,” ungkapnya.

Adapun yang menjadi materi pendalamannya antara lain mengenai konsolidasi demokrasi Indonesia melalui perubahan paket Undang-Undang Politik dan Undang-Undang Pemilu. Selian itu, posisi opini partai politik di mata rakyat, konstelasi geopolitik global terhadap pelaksanaan kebijakan politik luar negeri dan pengaruhnya terhadap dinamika politik dalam negeri.

Sementara itu di Jakarta, sejak semalam, bekas kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58 dipadati ratusan orang yang menggelar aksi keprihatinan untuk memperingati tragedi berdarah 15 tahun lalu itu. salah satu yang hadir dalam acara tersebut adalah Budayawan dan saksi sejarah Ridwan Saidi.

“Penyerbuan kantor DPP PDI waktu itu merupakan bentuk menguatnya perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, dan berakhir dengan lengsernya Soeharto 21 Mei 1998. "Jadi bukan karena Amien Rais, tetapi karena rakyat yang melawan," tegas Ridwan. (wah)