Rabu, 23 Oktober 2019 | 02:49 WIB
Politik
Tujuh krisis itu adalah krisis kewibawaan pemimpin serta kepercayaan terhadap partai politik dan parlemen. Krisis efektivitas penegakan hukum, kedaulatan sumber daya alam, kedaulatan pangan, pendidikan, dan krisis integrasi nasional.
Tujuh Krisis Indonesia Versi Para Tokoh
Selasa, 9 Agustus 2011 | 12:31 WIB
Sukardi Rinakit krisis kewibawaan pemimpin serta kepercayaan terhadap partai politik dan parlemen -
JAKARTA - Kondisi Indonesia yang terjadi saat tidak terlepas dari perhatian para tokoh masyarakat. Bahkan dalam perkembangannya, republik ini justru menyertakan beberapa krisis yang hampir merata di berbagai bidang.

Sebanyak 45 tokoh masyarakat dari berbagai unsur merangkum balutan kondisi Indonesia ke dalam tujuh kritis. Tokoh-tokoh tersebut adalah KH. Ali Yafie, Soegeng Sarjadi, Hariman Siregar, Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto, Djaffar Assegaf, dan Adnan Buyung Nasution. Selain itu, ada Bursah Zarnubi, Romo Benny Susetyo, dan Sukardi Rinakit.

Menurut Sukardi Rinakit, tujuh krisis itu adalah krisis kewibawaan pemimpin serta kepercayaan terhadap partai politik dan parlemen. Selain itu krisis efektivitas penegakan hukum, kedaulatan sumber daya alam, kedaulatan pangan, pendidikan, dan krisis integrasi nasional.

Surakdi Rinakit mewakili para tokoh masyarakat yang hadir dalam sarasehan, di Jakarta, pada Senin (8/8) malam. Republik Indonesia saat ini, menurut versi para tokoh itu, semakin menjauh dari cita-cita Proklamasi 1945 dan tengah dilanda tujuh krisis.

Padahal, cita-cita Proklamasi dengan tegas menyatakan tujuan bernegara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam pergaulan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Untuk mengatasi krisis ini, maka pemerintah harus berbenah diri. Pemerintahan harus efektif, kuat, dan mengutamakan kerja nyata. Bagi Tyasno Sudarto harus ada langkah perubahan untuk menyelamatkan bangsa dari krisis tersebut, demi tercapainya cita-cita Proklamasi.

Sementara mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ali Yafie berpendapat, semangat proklamasi kemerdekaan dan akhlak kepemimpinan sudah saatnya revitalisasi bagi bangsa Indonesia.

Rakyat jangan hanya berpangku tangan, mudah menyerah, dan membiarkan nasib masa depannya diombang-ambingkan oleh keadaan.

Sedangkan, para pemimpin harus memberikan contoh yang baik bagi rakyat. Watak dan perangai rakyat itu dipengaruhi watak pemimpinnya. "Marilah...Kita kobarkan kembali semangat juang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan," katanya.

Cita-cita itu adalah menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka dan bersatu, berdaulat, dan mewujudkan rakyat yang sungguh-sungguh hidup beradab. [mad]