Minggu, 23 September 2018 | 10:22 WIB
Gelar yang Berkesan untuk Tontowi/Liliyana
Sabtu, 6 Januari 2018 | 21:08 WIB
-

Skalanews - Usai memenangkan medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di Brasil, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir masih lapar gelar. Ini ditunjukkan ganda campuran Indonesia itu lewat prestasi di 2017.

Cedera lutut tidak menghalangi Liliyana bersama Tontowi untuk merebut gelar lainnya. Prestasi tahun lalu diawali dengan gelar BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017.

Kemenangan ini terasa begitu manis bagi Tontowi/Liliyana karena mereka sudah enam kali gagal menaklukkan kerasnya persaingan di Indonesia Open.

"Gelar di Indonesia Open paling berkesan buat kami di tahun ini, karena kami penasaran sekali mau jadi juara di rumah sendiri. Waktu itu kami berpikir kok belum bisa juara di Indonesia? padahal di event-event penting seperti kejuaraan dunia dan emas olimpiade sudah bisa kami dapatkan," kata Liliyana di Jakarta, baru-baru ini.

"Yang kedua baru gelar juara dunia tahun 2017. Nggak menyangka bisa jadi juara dunia lagi. Sebelumnya saya sudah pernah jadi juara dunia tiga kali dan tahun 2017 saya bisa juara lagi," tambah Liliyana yang juga menjadi juara dunia bersama Tontowi pada tahun 2013.

Sebelumnya, gelar juara dunia diraih Liliyana tahun 2005 dan 2007 saat berpasangan dengan Nova Widianto.

Senada dengan pasangannya, Tontowi pun mengatakan gelar Indonesia Open menjadi gelar yang paling membekas di hatinya.

"Rasanya luar biasa, bisa juara di depan publik sendiri dan akhirnya menang setelah beberapa kali mencoba. Kami pun mematahkan anggapan orang yang meragukan kalau kami bisa juara di kandang sendiri," ujar Tontowi.

"Apalagi lihat lawan-lawan kami di BIOSSP memang banyak pemain-pemain muda yang sedang naik penampilannya," tuturnya.

Tontowi/Liliyana mengaku cukup puas dengan capaian mereka di tahun 2017. Dua gelar penting yang memang dibidik mereka, berhasil diraih. Satu gelar lainnya juga direbut Tontowi/Liliyana di French Open Super Series 2017.

"Secara keseluruhan sih kami cukup puas dengan hasil di tahun 2017, pertandingan yang memang jadi target bisa kami menangkan. Untuk pemain kelas senior, sudah bisa dapat gelar penting seperti di olimpiade, All England, juara dunia, menurut saya sudah bagus ya," ujar Liliyana.

"Kalau ditanya soal kekalahan paling menyedihkan di tahun 2017 sih nggak ada. Namanya kalah pasti ada rasa kecewa, tetapi untungnya di event-event penting kami bisa dapat gelar. Jadi kekalahan lain cukup terobati," tambahnya.

"Alhamdulillah tidak ada kekecewaan di 2017, karena kami memang tidak menargetkan apa-apa selain Indonesia Open dan Kejuaraan Dunia. Semoga tidak ada kekecewaan lagi di 2018," kata Tontowi.

Ada satu gelar yang belum dikantongi Tontowi/Liliyana yaitu emas Asian Games. Kejuaraan ini menjadi fokus Tontowi/Liliyana di 2018, apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah pesta olahraga se Asia ini. Pada empat tahun lalu di Asian Games Incheon 2014, Tontowi/Liliyana mendapat medali perak.

"Tahun 2018 ini saya mau juara lagi di All England dan dapat medali emas di Asian Games," tutur Tontowi.

"Untuk tahun depan, lawannya itu-itu saja, paling beda partner. Kami mesti lebih siap lagi, pemain selevel kami harus lebih selektif dalam memilih turnamen. Agak mikir juga tahun depan ada 12 turnamen yang wajib diikuti, cukup berat buat kami. Kalau ikut saja sih bisa, tetapi bisa nggak hasilnya maksimal?" tutur Liliyana.

Bukan tak mungkin Liliyana akan gantung raket usai 2018. Menanggapi hal ini, Tontowi mengatakan dirinya harus siap jika ditinggal partnernya tersebut.

"Ya mau nggak mau harus siap kalau cik Butet pensiun, karena waktu itu pasti akan datang," sebutnya.(ant/dbs)


  
  
KOMENTAR:
Nama
Email
Komentar