Sabtu, 19 Januari 2019 | 07:08 WIB
IPA Siap Bantu Datangkan Investor Hulu Migas
Jumat, 14 Desember 2018 | 08:34 WIB
Eksplorasi Migas/ilustrasi - [skk migas]

Skalanews - Indonesian Petroleum Association (IPA), yang beranggotakan sekitar 200 perusahaan migas dan penunjangnya, menyatakan kesiapannya membantu pemerintah mendatangkan investasi di sektor industri hulu migas.

"Kegiatan investasi hulu migas harus terus digenjot agar Indonesia mampu meningkatkan produksi dan tidak terus menerus tergantung dari impor minyak," kata Presiden IPA, Tumbur Parlindungan saat diskusi dengan wartawan di Jakarta, Kamis (13/12).

Tumbur mengatakan asosiasi yang dipimpinnya akan meningkatkan kerja sama dengan semua pemangku kepentingan agar tercipta iklim investasi hulu migas yang lebih atraktif.

"Kami akan secara terbuka menyampaikan kepada kementerian terkait maupun presiden mengenai apa saja yang selama ini dirasakan investor sebagai hambatan dalam melakukan investasi hulu migas di Indonesia," kata CEO PT Saka Energi Indonesia, anak perusahaan PT PGN (Persero) itu.

Di sisi lain pemerintah juga perlu melakukan pendekatan serupa kepada perusahaan-perusahaan migas anggota IPA. "Jangan justru mereka dijauhi atau seolah dimusuhi tetapi coba dirangkul," katanya.

Menurut dia, pada dasarnya perusahaan migas multinasional itu masih mempunyai keinginan untuk berinvestasi di Indonesia. Hal itu dikarenakan potensi cadangan migas di Indonesia yang belum dieksplorasi jauh lebih besar ketimbang beberapa negara pesaing seperti Malaysia dan Meksiko.

Apalagi produksi minyak Indonesia pernah mencapai 1,5 juta barel per hari. Itu menunjukkan investasi hulu migas di Indonesia sebenarnya masih mempunyai nilai jual tinggi.

"Kalau ditanya apakah Indonesia mampu meningkatkan produksi minyaknya, jawabnya sangat bisa. Amerika Serikat sampai tahun 2009 masih net importir minyak, tetapi sekarang sudah menjadi negara eksportir minyak," katanya.

Tumbur menjelaskan sebagian anggota IPA termasuk perusahaan multinasional saat ini memang masih menahan diri untuk melakukan eksplorasi di Indonesia. Hal itu bukan diakibatkan oleh isi kandungan buminya, melainkan yang mereka hadapi di permukaan terutama soal kompleksitas perizinan.

"Mereka itu tinggal membandingkan Indonesia dengan negara-negara pesaing lainnya. Jika mereka merasa dipersulit di sini maka mereka tinggal pindah ke negara lain yang lebih atraktif," katanya.

Apabila masalah yang menjadi hambatan itu bisa diselesaikan melalui koordinasi antarkelembagaan yang langsung diawasi oleh presiden, Tumbur optimistis ke depan makin banyak kegiatan ekplorasi hulu migas di Indonesia. (bus/ant)