Jumat, 13 Desember 2019 | 00:06 WIB
Mayoritas Proyek Utang Terindikasi 'Laris'
Rabu, 11 November 2015 | 16:27 WIB
Ilustrasi - [ist]

Skalanews - Deputi Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Wismana Adi Suryabrata menyatakan, mayoritas proyek infrastruktur yang didanai utang dalam Daftar Rencana Proyek Pinjaman Luar Negeri Indonesia atau Blue Book 2015-2019 sudah terindikasi akan mendapat mitra pemberi pinjaman.

Wismana Adi Suryabrata di Jakarta, Rabu (11/11), mengatakan, sejumlah proyek lainnya yang belum mendapatkan indikasi pinjaman akan ditawarkan pemerintah kepada lembaga multilateral baru Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB).

"Dari indikasi awal, hampir semua sudah punya indikasi mitra kreditur," katanya.

Dalam Blue Book, totalnya terdapat 116 proyek dari 29 program dengan nilai 39,9 miliar dolar AS. Sebanyak 88 persen dari proyek tersebut adalah infrastruktur, dan sisanya non-infrastruktur, seperti program pendidikan dan pelatihan.

Wismana menyebutkan, proyek infrastruktur yang sudah mendapat indikasi pinjaman itu adalah proyek yang sudah dicocokan dengan kriteria dan plafon pinjaman dari kreditur, --yang sudah melakukan penjajakan sejak lama dengan pemerintah.

Misalnya, kreditur Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan juga mitra bilateral, seperti Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).

Sedangkan proyek-proyek infrastruktur tersebut, kata Wismana, sebagian besar proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR), dan juga sejumlah BUMN seperti PT. Perusahaan Listrik Negara dan PT. Pertamina.

Kementerian PU-PR mendapat alokasi utang proyek terbesar dalam Blue Book 2015-2019. Jumlah rencana pinjaman proyek dari Kemen PU-PR di Blue Book, mencapai sekitar 22,4 miliar dolar AS untuk periode 2015-2019.

Untuk melihat calon kreditur Indonesia secara spesifik, Bappenas memiliki daftar rencana prioritas pinjaman luar negeri atau Green Book yang dikeluarkan setiap tahun.

Untuk Green Book 2015, calon kreditur terbesar adalah JICA (Jepang), dengan tawaran indikator sebesar 1,4 miliar dolar AS. Posisi kedua adalah Bank Pembangunan Asia sebesar 856 juta dolar AS.

Secara terpisah, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pendanaan Pembangunan Bappenas Tuti Riyati mengatakan, indikasi mitra pendanaan (lender) itu berasal dari kajian Bappenas terhadap kerja sama yang telah dilakukan selama ini dengan "lender". Kemudian, kriteria dan karakteristik tawaran utang dari "lender" untuk proyek di Blue Book.

Tuti mengatakan, pihaknya juga mengkonfirmasi ke Kementerian/Lembaga mengenai data proyek infrastruktur yang mendapat "lampu hijau" pendanaan itu.

"Namun angka pastinya berapa yang sudah mendapat indikasi lender baru pekan depan, karena perlu rapat sekali lagi. Yang pasti sudah lebih dari 50 persen proyek di Blue Book terindikasi dapat 'lender'," ujarnya. (ant/tat)


  
  
TERPOPULER
Index +