Rabu, 23 Oktober 2019 | 02:49 WIB
OJK Dorong IOSCO Rilis Aturan UKM Global
Jumat, 22 Januari 2016 | 16:17 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad - [ist]

Skalanews - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong forum pengawas pasar modal atau International Organization of Security Commissions (IOSCO) The Growth and Emerging Markets Committee (GEM-C), untuk merilis aturan global dalam rangka mendukung sektor Usaha Kecil Menengah (UKM).

"Dalam pandangan saya, tema konferensi hari ini (22/1), 'Optimising Innovation and Strengthening Governance in Emerging Markets' memberikan kesempatan bagi saya untuk menyampaikan harapan salah satunya mendorong pertumbuhan UKM," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam sambutan konferensi IOSCO GEM-C di Nusa Dua, Bali, Jumat (22/1).

Di Indonesia, menurut dia, UKM termasuk di dalamnya perusahaan yang baru merintis bisnis (business start-ups) memberikan kontribusi sekitar 60 persen terhadap total produk domestik bruto (PDB), dan merepresentasikan 97 persen dari sumbangan tenaga kerja di Indonesia.

Maka, lanjut dia, penting untuk membantu pertumbuhan UKM agar keberlanjutan sehingga menopang pertumbuhan ekonomi.

Sektor UKM, menurutnya, telah menunjukkan dampak signifikan dengan membuka usaha dan inovasi di beberapa bidang, seperti transportasi, pariwisata, jual beli "online", dan membuka lapangan kerja baru.

Namun yang menjadi soal, kata Muliaman D Hadad, saat ini akses pendanaan UKM secara umum masih kesulitan. Padahal, itu merupakan salah satu syarat penting, agar bisnis UKM bisa terus berlanjut dan tumbuh.

Dalam konferensi itu, Muliaman D Hadad menyampaikan, OJK telah meluncurkan sejumlah kebijakan dan inovasi yang berkaitan dengan pembiayaan UKM dan "business start-ups", --di antaranya menyederhanakan proses penawaran umum bagi UKM, menciptakan UKM di papan Bursa Efek Indonesia, revitalisasi Modal Ventura untuk pengembangan usaha "start-up", dan mendukung Kredit Rakyat Usaha.

"UKM adalah mesin penggerak pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan sumber lapangan kerja," ujarnya.

Dari hasil pembicaraan informal dengan beberapa pejabat dari negara berkembang seperti Brazil dan Afrika Selatan, Muliaman mengatakan, secara umum memiliki persoalan yang sama.

Semuanya juga sepakat, untuk merumuskan aturan kemudahan akses UKM ke sektor keuangan terutama pasar modal.

"IOSCO itu yang menyusun aturan pasar modal global. Kita ingin mendorong bagaimana menyusun satu model, agar pasar modal lebih 'friendly' kepada UKM. Kita mendorong, agar disepakati bersama," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Head of Research and Public Policy, World Federation of Exchange, Siobhan Cleary mengatakan, UKM memang menjadi isu yang sedang dikembangkan di negara dunia.

"Potensi pasar UKM sangat besar bukan hanya di 'emerging market', tapi di global dunia. Yang menjadi fokus pengembangan UKMM adalah bagaimana meningkatkan likuiditas, dan mempermudah pendanaan sektor UKM melalui pasar modal," katanya.

Untuk menjaga likuiditas agar tidak rendah, menurut dia, maka perlu adanya penggerak pasar yang menjamin saham-saham sektor UKM yang diperdagangkan likuid. Sehingga menarik minat investor.

"Jika ada insentif untuk sektor UKM, juga akan lebih baik," katanya. (ant/tat)