Minggu, 8 Desember 2019 | 17:51 WIB
BI Nilai Kebijakan BoJ Tak Akan Berdampak Signifikan
Jumat, 29 Januari 2016 | 16:31 WIB
Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo - [ist]

Skalanews - Bank Indonesia menilai, kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) yang akan menerapkan kebijakan suku bunga negatif mulai Februari, tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian domestik.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral Jepang tersebut masih menerapkan kebijakan dana murah (quantitative easing), karena masih ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga inflasi yang masih rendah di negara tersebut.

"Kami tidak melihat suatu dampak yang signifikan dari apa yang dilakukan oleh BoJ," ujar Perry, saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (29/1).

BoJ akan menerapkan kebijakan suku bunga negatif mulai Februari, sebagai langkah tambahan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Negeri Sakura itu.

Keputusan tersebut diumumkan Jumat siang ini, usai rapat kebijakan moneter bulanan Bank of Japan. Di mana lima dari sembilan anggota dewan gubernur BoJ, mendukung penerapan kebijakan tersebut.

BoJ hari ini juga memutuskan, untuk mempertahankan besaran program quantitative easing sebesar 666 miliar dolar AS per tahun.

Menurut Perry, yang menjadi berita positif justru terkait keputusan The Fed pada Rabu lalu (27/1), yang tidak menaikkan tingkat suku bunga acuannya. Dan juga menunjukkan, bahwa bank sentral AS tersebut kebijakannya akan tetap 'dovish' (tidak agresif melakukan penguatan suku bunga, lebih memilih kemajuan pertumbuhan ekonomi).

"Saya kira itu mengkonfirmasi apa yang diperkirakan oleh pasar, bahwa tahun ini kenaikan FFR (Fed fund rate) hanya dua kali. Kemungkinan di Maret maupun Juni," kata Perry.

Apabila The Fed terbukti hanya menaikkan FFR dua kali dalam tahun ini, lanjut Perry, maka dampak dari kebijakan tersebut sudah diantisipasi oleh BI sebelumnya.

"Kami meyakini, itu menjadi faktor yang positif terhadap Indonesia. Khususnya terhadap nilai tukar Rupiah kita," ujar Perry. (ant/tat)