Senin, 18 November 2019 | 03:55 WIB
BI Komitmen Sediakan Uang Layak Edar
Selasa, 2 Februari 2016 | 16:55 WIB
Ilustrasi - [ist]

Skalanews - Bank Indonesia berkomitmen untuk menyediakan uang layak edar bagi masyarakat, yaitu uang rupiah asli yang memenuhi persyaratan untuk diedarkan berdasarkan standar kualitas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

"Penyediaan uang rupiah yang berkualitas sangat penting, dalam menjaga integritas rupiah sebagai salah satu simbol kedaulatan negara Republik Indonesia. Selain itu, uang yang layak edar akan memberikan kenyamanan bertransaksi bagi masyarakat," kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi di Jakarta, Selasa (2/2).

Beberapa contoh uang rupiah tidak layak edar berdasarkan standar Bank Indonesia adalah uang yang kondisinya telah berubah, --antara lain karena jamur, minyak, bahan kimia, dan coretan, atau yang fisiknya telah berubah karena terbakar, berlubang, atau robek.

Salah satu tugas Bank Indonesia adalah melakukan pemusnahan uang tidak layak edar tersebut. Hal ini sesuai dengan UU No.7 Tahun 2011, yang menyebutkan bahwa pengelolaan rupiah mencakup tahapan Perencanaan, Pencetakan, Pengeluaran, Pencabutan dan Penarikan, dan Pemusnahan.

"Sebagai wujud komitmen menyediakan uang yang layak edar di masyarakat, salah satu langkah yang dilakukan Bank Indonesia secara rutin adalah kegiatan pemusnahan uang," ujar Suhaedi.

Uang yang dimusnahkan oleh Bank Indonesia, lanjutnya, merupakan uang yang tidak layak edar baik berupa uang lusuh, uang rusak maupun uang Rupiah yang masih layak edar yang dengan pertimbangan tertentu tidak lagi mempunyai manfaat ekonomis dan/atau kurang diminati oleh masyarakat.

Pada 2015, kegiatan pemusnahan uang dituangkan dalam PBI tentang Jumlah dan Nilai Nominal Uang Rupiah yang Dimusnahkan Tahun 2015.

Dalam PBI, disebutkan bahwa nominal uang yang dimusnahkan pada 2015 sejumlah Rp160,25 triliun yang terdiri dari 5,92 miliar bilyet dan 19,47 juta keping.

Berdasarkan jumlah bilyetnya, terdapat peningkatan 13,89 persen dari pemusnahan uang 2014, yaitu 5,20 miliar bilyet.

Hal ini antara lain disebabkan peningkatan standar kelusuhan uang (soil level) sepanjang 2015, dari 6 pada 2014 menjadi 7 pada Januari 2015 dan 8 pada Juli 2015 dan seterusnya.

Suhaedi menambahkan, peningkatan standar dilakukan guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan menyediakan standar uang yang semakin baik.

"Untuk selanjutnya, Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah pengelolaan uang Rupiah secara optimal, sesuai amanat undang-undang," kata Suhaedi. (ant/tat)


  
  
TERPOPULER
Index +