Selasa, 21 Mei 2019 | 07:39 WIB
Realisasi Belanja Modal Bermanfaat untuk Pembangunan
Jumat, 16 November 2018 | 04:32 WIB
Sri Mulayani Indrawati - [ist]

Skalanews - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi belanja modal sampai akhir Oktober 2018 mencapai Rp107,3 triliun, tentunya bermanfaat untuk mendorong kegiatan pembangunan.

"Belanja modal terlihat bermanfaat untuk mengejar perbaikan pembangunan di Indonesia," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers realisasi APBN di Jakarta, Kamis (15/11) malam.

Sri Mulyani mengatakan realisasi belanja modal tersebut telah mencapai 52,7 persen dari pagu APBN 2018 atau lebih tinggi dari periode sama tahun 2017 sebesar 47,2 persen.

"Realisasi belanja modal ini tumbuh 1,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Ia menambahkan sebagian besar belanja modal tersebut telah dimanfaatkan untuk pembangunan jalan, irigasi maupun jaringan serta peralatan dan gedung yang dibutuhkan guna meningkatkan kegiatan perekonomian.

Rinciannya untuk jalan, irigasi dan jaringan sebanyak 53 persen, peralatan dan mesin 28 persen, gedung dan bangunan 15 persen serta modal lainnya 2 persen.

Selain itu, kenaikan realisasi belanja modal ini juga didukung oleh pola penyerapan anggaran belanja yang berbeda, karena tahun ini pemerintah tidak mengajukan APBN-Perubahan.

Sri Mulyani menyakini kinerja pembangunan yang dibiayai oleh belanja modal akan meningkat jelang akhir tahun, sehingga proyeksi penyerapan belanja modal bisa mencapai 95,7 persen.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani juga menyampaikan realisasi dari belanja pemerintah pusat lainnya seperti belanja pegawai yang sudah mencapai Rp288,9 triliun dan belanja barang Rp228,3 triliun.

Realisasi bantuan sosial dalam periode ini juga tercatat telah mencapai Rp69,1 triliun atau sebanyak 85,1 persen dari pagu APBN.

Sedangkan, belanja subsidi sampai dengan akhir Oktober 2018 mencapai Rp160,36 triliun atau 102,64 persen dari pagu APBN, lebih tinggi Rp57,7 triliun dari periode sama tahun lalu.

Realisasi belanja subsidi tersebut meliputi subsidi energi sebesar Rp117,37 triliun dan subsidi non energi sebanyak Rp42,99 triliun.

Tingginya penyerapan disebabkan oleh realisasi subsidi energi yang dipengaruhi pergerakan ICP dan nilai tukar rupiah, serta pembayaran sebagian kurang bayar belanja subsidi pada tahun-tahun sebelumnya. (bus/ant)