Jumat, 24 Januari 2020 | 12:55 WIB
Ekonom Sebut Perang Dagang Baru Berdampak di Finansial
Kamis, 6 Desember 2018 | 17:35 WIB
Andry Asmoro - [ist]

Skalanews -Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan bahwa dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China saat ini di Indonesia baru terasa di sektor finansial dan harus dijaga agar tidak meluas dampaknya.

"Sampai sekarang belum terlalu terasa (dampak perang dagang), baru terasa dalam sektor finansial," katanya di Jakarta, Kamis (6/12).

Menurut dia, bila perang dagang terus berkepanjangan maka dicemaskan akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi nasional yang ujungnya bisa berdampak kepada pendapatan masyarakat.

Ia berpendapat, hal positif yang menahan dampak itu antara lain kondisi inflasi di Indonesia yang relatif rendah.

Namun, ia juga mengingatkan adanya ekspektasi potensi kenaikan suku bunga acuan pada tahun depan.

"Indonesia sangat tergantung kepada fluktuasi global. Ke depannya volatilitas seperti ini masih akan terjadi," ucapnya.

Andry juga mengemukakan bahwa memang benar Indonesia saat ini ada tantangan struktural seperti dalam permasalahan defisit neraca perdagangannya, tetapi bila dilihat dari respons kebijakannya maka Indonesia dinilai masih lebih baik dari berbagai negara "the emerging market" lainnya.

Ia juga menyoroti pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, meski disadari bahwa berbagai kebijakan pemerintah telah agresif dalam mendorong konsumsi rumah tangga seperti memberikan program bantuan sosial yang relatif besar.

Sebelumnya, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan bahwa Indonesia perlu melakukan langkah antisipatif terhadap dampak negatif perang dagang antara Amerika Serikat dan China, dengan mendiversifikasi pasar ekspor dan meningkatkan nilai investasi.

Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman di Jakarta, Rabu (5/12), mengatakan, diversifikasi pasar sangat diperlukan agar Indonesia tidak tergantung kepada China. "Ada baiknya Indonesia juga mulai merambah pasar lain yang tidak kalah potensial, misalnya saja Afrika dan negara Asia lainnya," ucapnya. [day]