Selasa, 21 Mei 2019 | 08:13 WIB
BI Sebut Defisit Transaksi Berjalan Kuartal IV Lebihi Tiga Persen
Kamis, 20 Desember 2018 | 17:16 WIB
-

Skalanews - Bank Indonesia (BI) mengatakan terdapat kemungkinan defisit transaksi berjalan di kuartal IV 2018 akan melebihi tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), setelah ekspor-impor mancanegara Indonesia mengalami defisit tertinggi untuk sepanjang tahun yakni 2,05 miliar dolar AS pada November 2018.

"Jadi jangan terlalu kaget, jika defisit transaksi berjalan di akhir kuartal IV 2018 di atas tiga persen PDB," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers Rapat Dewan Gubernur periode November 2018 di Jakarta, Kamis (20/12).

Defisit transaksi berjalan (CAD) merupakan parameter fundamental ekonomi domestik yang merekam arus perdagangan barang dan jasa dari Indonesia ke mancanegara. Oleh karena itu, CAD juga mencerminkan arus devisa yang masuk dan keluar Indonesia sehingga akan mempengaruhi transaksi nilai tukar rupiah.

Meskipun CAD defisit, Perry melihat impor, yang menjadi musabab defisit CAD, masih didominasi barang modal dan bahan baku yang akan melahirkan kegiatan ekonomi produktif jangka panjang.

Perry menyebut kondisi CAD saat ini masih "aman".

"Apalagi kompoisisi impornya adalah produktif. Sebagaian untuk impornya adalah untuk barang modal dan bahan baku. Oleh karena itu dalam jangka pendek ini, kita berupaya menurunkan CAD ke arah 2,5 persen dari PDB untuk 2019," kata Perry.

Dengan perkiraan CAD di kuartal terakhir ini, BI memandang CAD secara keseluruhan tahun akan berada di sekitar tiga persen PDB. Level CAD itu naik dibanding 2017 yang sebesar 1,7 persen PDB.

Meskipun CAD defisit cukup besar, Perry meyakini secara keseluruhan neraca pembayaran 2018 akan surplus karena derasnya aliran modal asing masuk.

Untuk November 2018 saja, modal asing ke domestik sebesar 7,9 miliar dolar AS. Investasi itu yang mengkompensasi defisit transaksi berjalan sehingga neraca pembayaran diperkirakan tetap surplus.(ant/dbs)