Kamis, 25 April 2019 | 11:05 WIB
Pemerintah Perlu Kurangi Ketergantungan Rupiah Terhadap The Fed
Sabtu, 12 Januari 2019 | 07:28 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Pemerintah perlu untuk mengurangi ketergantungan nilai mata uang rupiah terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman di Jakarta, Jumat (11/1) mengungkapkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini tidak dapat dipungkiri karena adanya pengaruh kebijakan The Fed.

Menurut dia, The Fed yang mengindikasikan bahwa mereka tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunga pada tahun 2019, direspons oleh pelaku ekonomi di seluruh dunia untuk memberanikan diri mengalirkan modal ke pasar-pasar negara berkembang.

"Indonesia adalah salah satu negara yang termasuk emerging market. Masuknya arus modal ini berakibat positif bagi nilai Rupiah, sehingga nilai tukar Rupiah pada beberapa hari ke belakang ini menunjukkan tren penguatan dan akhirnya terapresiasi," ucapnya.

Namun, Ilman berpendapat bahwa di balik kondisi yang positif ini sebenarnya tersimpan permasalahan yang harus segera dibenahi pemerintah.

Permasalahan itu, ujar dia, adalah bahwa betapa rupiah cukup bergantung kepada dinamika kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

"Dengan kondisi pemerintahan Amerika Serikat yang tidak stabil di bawah rezim Presiden Trump, tidak menutup kemungkinan bahwa The Fed melakukan perubahan kebijakan secara tidak terduga yang pada akhirnya akan menghantam nilai mata uang Rupiah," jelas Ilman.

Untuk itu, ia menginginkan pemerintah agar melakukan upaya-upaya guna mendorong arus modal yang sifatnya tetap, sehingga lebih sulit untuk berpindah ke luar negeri.

Investasi Langsung Asing (FDI), lanjutnya, berperan penting dalam hal ini dan dapat dicapai salah satunya dengan mempermudah birokrasi bisnis dan menciptakan iklim investasi yang baik.

Ilman mengatakan, tidak mudah untuk memprediksi pergerakan Rupiah. Hal ini disebabkan saat ini sebagian modal asing yang ada di Indonesia ada dalam bentuk produk keuangan, yang cenderung lebih volatil dan mudah untuk berpindah ke luar Indonesia.

Sebagaimana diwartakan, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menilai kombinasi faktor eksternal dan domestik pada awal tahun ini mendorong penguatan nilai tukar Rupiah.

"Rupiah baik ya, terutama dari sisi eksternal, gambaran dari global cukup baik. Perang dagang sendiri diantisipasi akan menghasilkan keputusan yang positif bagi pasar," ujar Dody saat ditemui usai ibadah Shalat Jumat di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (11/1).

Dody menuturkan, pernyataan pejabat The Fed juga cukup "dovish" alias masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuannya atau Fed Fund Rate pada tahun ini.

Sebelumnya, Bank Indonesia menyebutkan, peluang kurs rupiah untuk terus menguat terbuka karena nilai mata uang Indonesia yang pada Kamis ditutup pada Rp14.052 per dolar AS, dinilai masih terlalu murah ("undervalue").

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan jika dilihat dari kondisi fundamental ekonomi domestik saat ini, kurs rupiah seharusnya terus menguat dalam beberapa waktu ke depan. (bus/ant)