Rabu, 22 Mei 2019 | 14:19 WIB
Neraca Pembayaran Indonesia 2018 Defisit 7,1 Miliar Dolar AS
Jumat, 8 Februari 2019 | 20:27 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2018 berbalik menjadi defisit sebesar 7,1 miliar dolar AS dibanding 2017 ketika NPI surplus 11,6 miliar dolar AS.

Merujuk Statistik NPI yang dilansir Bank Indonesia di Jakarta, Jumat (8/2), dalam komponen NPI sebenarnya terdapat surplus dari neraca transaksi modal dan finansial sebesar 25,2 miliar dolar AS yang disebabkan masih banyaknya investor global yang membeli instrumen obligasi pemerintah, obligasi koporasi dan juga saham emiten di pasar Indonesia.

Namun, dalam komponen NPI, terdapat defisit 31,1 miliar dolar AS untuk neraca transaksi berjalan, yang merupakan imbas dari defisit neraca perdagangan barang, jasa dan juga pendapatan primer.

"Dengan kondisi tersebut, NPI secara keseluruhan defisit 7,1 miliar dolar AS," kata Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Yati Kurniati.

Adapun pada dua tahun terakhir yakni di 2017 dan 2016, Indonesia masih menikmati surplus NPI hingga masing-masing 11,6 miliar dolar AS dan 12,1 miliar dolar AS.

Defisit NPI pada akhir 2018 sebenarnya cukup "tertolong" agar tidak kian melebar, karena derasnya aliran masuk transaksi modal dan finansial di kuartal IV 2018 yang meningkat signifikan menjadi 15,7 miliar dolar AS dibanding 3,9 miliar dolar AS pada kuartal III 2018.

"BI melihat ada perbaikan investasi portofolio karena banyaknya aliran dana asing ke pasar keuangan," kata Yati.

Rinciannya, investasi langsung yang masuk sebesar dua miliar dolar AS, kemudian 10,4 miliar dolar AS pada investasi portofolio dan 3,5 miliar dolar AS pada investasi lainnya.

Aliran investasi dalam bentuk portolio itu memperkuat surplus di transaksi modal dan finansial sepanjang 2018 yang total sebesar 25,2 miliar dolar AS.

Sayangnya, berbeda dengan transaksi modal dan finansial, defisit neraca transaksi berjalan malah semakin membengkak di kuartal IV 2018 hingga mencapai 3,57 persen dari Produk Domestik Bruto atau 9,1 miliar dolar AS.

Defisit transaksi berjalan semakin melebar juga di antaranya karena tingginya impor karena impor, termasuk untuk barang non migas. Untuk kuartal IV 2018 saja, dalam transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan barang mencapai 2,6 miliar dolar AS, sementara neraca jasa defisit 1,6 miliar dolar AS.

Secara keseluruhan di akhir 2018, merujuk data BI, defisit neraca perdagangan barang sebesar 0,4 miliar dolar AS, defisit jasa 7,1 miliar dolar AS, dan pendapatan primer yang defist 30,4 miliar dolar AS, sedangkan pendapatan sekunder surplus 6,9 miliar dolar AS.

Dengan demikian, defisit transaksi berjalan pada 2018 sebesar 31,1 miliar dolar AS atau 2,98 persen PDB.

"Untuk keseluruhan tahun, defisit itu masih berada dalam batas yang aman," kata Yati. (bus/ant)