Selasa, 25 Februari 2020 | 00:01 WIB
BI Tidak Akan Intervensi Penguatan Rupiah
Senin, 13 Januari 2020 | 17:31 WIB
-

Skalanews - Bank Indonesia (BI) tidak akan mengintervensi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena sesuai dengan kekuatan pasar dan sejalan dengan fundamental ekonomi RI.

"Kami juga confidence terhadap perkembangan rupiah," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Senin (13/1).

Rupiah terus menguat sejak Februari 2018 dan pada Senin pagi nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat 62 poin.

Angka itu naik 0,45 persen menjadi Rp13.710 per dolar AS dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.772 per dolar AS.

Menurut Dody, penguatan rupiah tersebut didukung oleh kondisi makro-ekonomi RI yang tumbuh positif di antaranya produk domestik bruto, kemudian inflasi yang rendah dan survei konsumen yang positif.

Selain itu, lanjut dia, aliran modal asing yang terus masuk ke perekonomian Indonesia ditambah cadangan devisa menguat merupakan beberapa faktor yang membuat rupiah saat ini tahan banting.

Bank sentral itu, ucap dia, juga tidak akan menahan penguatan rupiah sepanjang sejalan dengan fundamental ekonomi RI.

"Kami tentunya punya perhitungan, sepanjang ini sesuai nilai fundamental, kami tetap membiarkan rupiah itu menguat," ucapnya.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan menguat seiring turunnya harga minyak dunia.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menjelaskan penurunan harga minyak di antaranya karena tensi konflik antara AS-Iran mereda.

Selain itu, ditambah Wakil Perdana Menteri Liu Le akan datang ke Washington DC untuk menandatangani perjanjian kesepakatan dagang AS-China untuk fase satu pada tanggal 15 Januari 2020 ini.

Sementara itu, harga minyak mentah turun tajam pada akhir minggu lalu, bahkan tembus di bawah level 60 dolar AS per barel untuk jenis WTI.

Selain itu, pasar masih menunggu rencana dari AS dan China dalam menandatangani kesepakatan dagang fase satu yang rencananya akan dilaksanakan pada Rabu (15/1) mendatang.(ant/dbs)


  
  
TERPOPULER
Index +