Jumat, 18 Oktober 2019 | 11:39 WIB
Unit Syariah SMI Incar Pembiayaan 3 Proyek Infrastruktur
Kamis, 8 Juni 2017 | 06:33 WIB
ilustrasi -

Skalanews - PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) melalui Unit Usaha Syariah mengincar pembiayaan tiga proyek infrastruktur dasar untuk mendorong pemanfaatan dana syariah agar bermanfaat bagi pembangunan.

"Sektor jalan tol, refinery dan ketenagalistrikan. Ini yang kita lihat potensinya," kata Direktur Utama PT SMI Emma Sri Martini di Jakarta, Rabu (7/6).

Emma menjelaskan proyek jalan tol ini yang akan menghabiskan dana sekitar Rp500 miliar ini diharapkan bisa memulai proses kesepakatan pada tahun ini.

"Sektor jalan tol ini Rp500 miliar, kita sedang coba dan semoga tahun ini bisa closing dan proses disburstnya kita lihat progress di lapangan," katanya.

Untuk proyek kilang yang diperkirakan menghabiskan dana 75 juta dolar AS atau sekitar Rp975 miliar, tambah Emma, masih dalam tahapan diskusi guna mencari solusi atas perbedaan mata uang.

Risiko mata uang ini muncul, karena UU Mata Uang mewajibkan penggunaan Rupiah di dalam negeri, padahal dana investor yang masuk menggunakan dolar AS.

"Kalau kita peroleh dolar AS, dilempar ke Rupiah, tenornya bisa mismatch, dan mata uangnya juga. Meski ada lindung nilai, itu juga mahal, jadi kita harus mitigasi currency risk ini," jelasnya.

Emma menjelaskan percepatan komitmen pembangunan dari tiga proyek infrastruktur ini juga sangat tergantung dari persiapan serta koordinasi di lapangan.

"Yang sudah maju proses persiapan dan koordinasi teman-teman di lapangan dengan pemilik proyek, diantaranya tiga proyek. Untuk komitmen dan disburst nanti kita sesuaikan dengan kemajuan proyek," katanya.

Terkait Unit Usaha Syariah, Emma mengatakan unit ini dibentuk sejak Maret 2017 untuk memberikan kesempatan kepada pembiayaan syariah untuk berkontribusi kepada pembangunan infrastruktur.

Hal ini dilakukan, karena potensi pembiayaan syariah di Indonesia, yang saat ini memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, sangat besar.

"Kita mulai merangkul pemain lama perbankan syariah, dan karena masih dinilai high risk, kita saling melengkapi mulai dari sisi size, risiko, hingga pengetahuan, agar mereka nyaman masuk infrastruktur," ujarnya.

Tiga Tantangan
Dalam kesempatan yang sama, ahli ekonomi syariah Adiwarman Karim memberikan apresiasi atas usaha PT SMI untuk mendorong keterlibatan pembiayaan syariah dalam bidang infrastruktur.

Meskipun demikian, ia mencatat ada tiga tantangan yang dihadapi dalam proses pendanaan proyek-proyek infrastruktur melalui skema syariah.

Pertama, istilah syariah yang belum dipahami luas oleh masyarakat termasuk para investor proyek, sehingga pemilik dana ini masih menahan diri untuk terlibat dalam pembiayaan syariah.

Kedua, industri perbankan syariah saat ini kebanyakan berada dalam BUKU 2, sehingga tidak memiliki daya tarik terhadap pemilik proyek dan membutuhkan lembaga lain seperti PT SMI untuk menjadi penjamin pembiayaan.

"Kalau kebanyakan buku dua, jadi bisanya hanya proyek kecil, tidak bisa masuk proyek infrastruktur. Sehingga industri perbankan syariah, memerlukan sosok pemimpin yang dari segi modal punya, dan kapasitas juga punya," jelasnya.

Ketiga, upaya mengincar pembiayaan dari luar negeri yang belum maksimal karena belum ada kepastian terhadap penggunaan skema syariah untuk pembiayaan infrastruktur di Indonesia.

"Kita harapkan SMI bisa menjadi pemimpin, dan bisa menarik dana investor luar negeri untuk membiayai proyek dengan skema syariah. SMI dengan modal dan peringkat rating yang dimiliki bisa mudah menarik dana," kata Adiwarman. (bus/antara)