Senin, 23 September 2019 | 22:31 WIB
Penutupan Sumur Bocor Pertamina Paling Lambat Awal Oktober
Kamis, 12 September 2019 | 08:46 WIB
Tumpahan minyak - ilustrasi - [ist]

Skalanews - Vice President Corporate Communications PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman mengatakan penutupan sumur bocor di kilang YYA-1 paling lambat pada awal Oktober 2019.

"Sekarang sudah dekat pengeborannya dengan sumber, sudah berjarak satu meter saja dari awalnya satu kilometer, paling lambat awal Oktober," kata Fajriyah di Komisi VII DPR, Jakarta, Rabu (11/9).

Per hari ini, Rabu (11/9), sudah mencapai 8.900 kaki dalamnya pengeboran. Pengeboran sumur relief well YYA-1RW merupakan upaya PHE ONWJ untuk menghentikan gelembung gas di sumur YYA-1 setelah selama satu minggu terakhir melakukan survei untuk menentukan titik sumur dan penempatan menara bor (rig).

"Pemilihan lokasi pengeboran sumur baru itu telah melalui kajian keamanan dari tiga aspek yakni HSSE, subsurface dan seabed survey," imbuh VP Relation Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya.

PHE ONWJ memakai perusahaan well control kelas dunia untuk mematikan sumur YYA-1 itu yakni Boots & Coots. Perusahaan asal AS itu berpengalaman dan telah terbukti menghentikan insiden serupa sumur YYA-1, dengan skala jauh lebih besar di Teluk Meksiko.

Setelah sumur baru YYA-1RW mencapai titik kedalaman sumur YYA-1 yang ditentukan, maka akan dipompakan lumpur berat dari sumur baru untuk mematikan sumur YYA-1.

"Nanti, setelah sumur YYA-1 dinyatakan mati akan dilakukan monitoring selama 24 jam penuh, sebelum dilanjutkan ke proses plug and abandon atau penutupan sumur secara permanen," tegas Ifki.

PHE ONWJ terus berupaya secara optimal menahan tumpahan minyak sumur YYA-1 agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan serta mengejar, melokalisasi, dan menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan YYA-1.

Selain penanganan kontrol sumur, PHE ONWJ juga melakukan penanganan oil spill di offshore dan onshore. Di offshore penanganan dilakukan dengan menggunakan 4.200 meter static oil boom di lapisan pertama dan 400 meter static oil boom di lapisan kedua untuk mengejar minyak yang lolos IMT juga memasang moveable oil boom 700 meter. (bus/ant)