Kamis, 17 Oktober 2019 | 20:41 WIB
Kinerja Ekspor Belum Ideal Sumbang Suplus Perdagangan
Jumat, 16 Oktober 2015 | 05:07 WIB
Menko Perekonomian, Darmin Nasution -

Skalanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan surplus neraca perdagangan yang terjadi hingga September 2015 akan lebih ideal apabila didukung oleh kinerja ekspor yang lebih memadai.

"Sebetulnya ekspornya turun, tapi impornya turun lebih cepat, makanya surplus. Jadi itu berita baik, tapi belum cukup. Dia akan cukup kalau surplus terjadi karena ekspornya naik," katanya di Jakarta, Kamis.

Darmin mengatakan kinerja ekspor belum optimal, karena selama ini Indonesia lebih banyak melakukan ekspor berbasis sumber daya alam, padahal harga komoditas di pasar internasional sedang menurun tajam.

Sektor ekspor nasional yang melemah karena berkurangnya permintaan di negara tujuan ekspor tersebut menjadi salah satu alasan pertumbuhan ekonomi pada semester I-2015 hanya tercatat sebesar 4,7 persen.

Untuk itu, pemerintah sedang berupaya melakukan diversifikasi ekspor dari segi produk maupun negara tujuan, agar Indonesia tidak lagi bergantung dari ekspor CPO, karet maupun batu bara yang rentan terhadap kondisi global.

Salah satu inisiatif tersebut telah hadir melalui deregulasi perizinan serta bantuan pembiayaan ekspor yang dilakukan LPEI, yang masuk dalam paket kebijakan ekonomi, agar industri kecil kembali bergairah untuk mendorong perekonomian nasional.

"Deregulasi kita ini selain menyederhanakan perizinan dan mendorong investasi di industri, juga mencoba membantu pembiayaan ekspor, terutama untuk UKM. Karena yang kita punya adalah UKM," ujar Darmin.

Selain itu, ia menambahkan berbagai produk andalan bisa mulai dikembangkan oleh sektor manufaktur Indonesia, antara lain produk pangan, perhiasan dan batu mulia serta alas kaki, agar ekspor tidak lagi mengandalkan hasil sumber daya alam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada September 2015 mengantongi surplus 1,02 miliar dolar Amerika Serikat, sehingga pada periode Januari-September terus mencatat surplus.

"Neraca perdagangan pada September 2015 surplus 1,02 miliar dolar AS. Pada 2015, memang surplus sejak Januari meskipun pada awal tahun kinerja ekspor impor cenderung menurun," kata Kepala BPS Suryamin dalam jumpa pers.

Dengan demikian, selama periode Januari hingga September 2015 surplus neraca perdagangan tercatat mencapai 7,13 miliar dolar AS, yang mengalami kenaikan jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2014 lalu dimana neraca perdagangan tercatat mengalami defisit 1,67 miliar dolar AS. (ant/mar)