Kamis, 14 November 2019 | 06:19 WIB
Bappenas: Persiapan Proyek Didanai Utang Lebih Baik
Selasa, 20 Oktober 2015 | 01:27 WIB
-

Skalanews - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas menjamin persiapan dan perencanaan proyek-proyek infrastruktur, yang didanai utang luar negeri, akan lebih baik pada 2016.

Hal itu guna mengebut proses pencairan pinjaman dari kreditur, sehingga masalah ketidak-tersediaan dana tidak lagi mengganggu keberlangsungan proyek-proyek infrastruktur.

"Daftar pinjaman prioritas 2016 (Green Book) proyek bisa kita keluarkan awal tahun di 2016," kata Deputi Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/ Bappenas Wismana Adi Suryabarata di Jakarta, Senin (19/10).

Kebutuhan sumber pendanaan dari luar negeri untuk proyek pembangunan di Indonesia, kata Wismana, masih cukup besar.

Mengutip data rencana pinjaman luar negeri jangka menengah 2015-2019 atau Blue Book, rencana dana yang akan dipinjam Indonesia mencapai 39,9 miliar dolar AS.

Hal itu belum termasuk, kebutuhan dana yang diajukan dalam skema kerja sama pemerintah-swasta di PPP Book 2015 sebesar 23 miliar dolar AS.

Maka dari itu, untuk memaksimalkan potensi dari pinjaman luar negeri, sekaligus menjaga kepercayaan kreditur, segala tahapan persiapan dan perencanaan proyek harus dikerjakan maksimal.

Dalam tahapan persiapan proyek, setidaknya pemerintah akan memastikan fase pra-studi kelayakan, studi kelayakan, desain rekayasa teknis, dan kelengkapan dokumen syarat bisa terpenuhi.

"Dengan begitu serapan dari plafon pinjaman luar negeri juga akan maksimal," ujar Wismana.

Selain Blue Book yang disusun untuk jangka menengah, pemerintah juga setiap tahun merilis Green Book atau Daftar Rencana Pinjaman Prioritas Luar Negeri (DRPPLN).

Proyek yang masuk dalam Green Book ini merupakan proyek prioritas yang memiliki kriteria kesiapan tertinggi, dan sudah mendapat sinyal positif dari kreditur asing. Sayangnya, Green Book 2015 baru dikeluarkan pada Oktober 2015 ini.

Wismana mengakui, kemungkinan pencairan pinjaman untuk proyek di Green Book yang totalnya senilai 3,9 miliar dolar AS dan terdiri dari 25 proyek, baru akan terealisasi pada awal 2016.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pendanaan Bappenas Tuti Riyati mengatakan selain baru terealisasi awal 2016, proses pencairannya pun bertahap, atau tidak akan langsung tunai sesuai nilai pinjaman yang disepakati.

Semua hal tersebut akan bergantung pada negosiasi yang dilakukan pemerintah kepada kreditur, setelah surat persetujuan pinjaman (loan agreement) ditandatangani pemerintah.

Berdasarkan catatan Antara, untuk 2015, setidaknya surat pencairan pinjaman untuk empat proyek jalan tol sudah masuk finalisasi dan siap dinegosiasikan.

Empat surat pencairan pinjaman itu adalah untuk proyek pembangunan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan, dengan pinjaman 235 juta dolar AS, yang diajukan kepada China Exim Bank. Kemudian, 65 juta dolar AS untuk tol Balikpapan-Samarinda kepada China Exim Bank.

Sebanyak 80 juta dolar AS untuk pembangunan tol Manado-Bitung, dari China Exim Bank. Selanjutnya, 200 juta dolar AS untuk pembangunan tol Solo-Kertosono, dari China Exim Bank. [mad/ant]