Minggu, 29 Maret 2020 | 13:02 WIB
Kini, Banyak Pembeli Apartemen Gunakan Kredit Perbankan
Rabu, 12 Juli 2017 | 04:32 WIB
ilustrasi - [ist]

Skalanews - Konsultan properti Colliers International menyatakan pada saat ini semakin banyak pembeli properti apartemen yang lebih memilih menggunakan kredit pemilikan rumah dari bank dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

"Sebelumnya pada 2013, orang yang membeli apartemen dengan menyicil kepada bank melalui KPR hanya 16 persen, sedangkan sekarang sudah dua kali lipatnya," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, di Jakarta, Selasa (11/7).

Menurut Ferry, hal tersebut berdasarkan hasil survei yang dilakukan Colliers terhadap konsumen apartemen yang ada di wilayah Jakarta.

Berdasarkan survei tersebut ditemukan bahwa pada kuartal IV-2013, pembeli apartemen dengan menggunakan KPR adalah sekitar 16 persen, dan yang membeli dengan metode "hard cash" atau uang kas langsung lunas adalah 21 persen, dan yang membeli dengan "cash installment" atau cicilan kepada pengembang adalah sebesar 63 persen.

Hal berbeda ditemukan ketika survei yang sama dilakukan pada kuartal II-2017, di mana jumlah pembeli apartemen dengan menggunakan KPR melonjak hingga 32 persen, sementara yang menggunakan "hard cash" adalah 18 persen, dan pembeli yang menggunakan "cash installment" adalah 50 persen.

Fenomena itu, ujar dia, adalah karena kebijakan pelonggaran uang muka dari Bank Indonesia yang disebut sebagai "loan-to-value threshold" (LTV), serta kondisi bunga perbankan yang saat ini semakin turun sehingga membuat minat pengguna KPR meningkat.

Untuk itu, Ferry menyarankan agar bila sektor properti dapat lebih berkembang di Indonesia, maka langkah yang sebaiknya dilakukan adalah merendahkan tingkat suku bunga kredit.

"Perlu dijaga kondisi semakin banyaknya orang yang menggunakan fasilitas pembiayaan dari bank supaya marketnya bisa lebih luas lagi pada masa mendatang," paparnya.

Di tempat terpisah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan tahun 2017 menyesuaikan target KPR Bersubsidi menjadi 279.000 unit yang terdiri atas KPR Subsidi Selisih Bunga sebesar 239.000 unit dan KPR FLPP sebesar 40.000 unit.

Menurut Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti, penyesuaian perlu dilakukan setelah memperhatikan kapasitas pasokan rumah bersubsidi yang dibangun oleh pengembang.

"Meskipun anggaran untuk FLPP (KPR bersubsidi) turun dari semula Rp9,7 triliun menjadi Rp3,1 triliun, namun penurunan tersebut dikompensasi dengan kenaikan subsidi selisih bunga dari Rp312 miliar menjadi Rp615 miliar dan perubahan komposisi anggaran ini tetap dapat menjamin kebutuhan subsidi terhadap semua produksi rumah bagi MBR yang dibangun oleh pengembang. Perubahan komposisi anggaran tersebut akan diatur dalam APBN-P Tahun 2017," katanya.

Meskipun Bank BTN tidak berperan serta lagi dalam menyalurkan KPR FLPP di tahun 2017, masih ada 29 bank yang menyalurkan KPR FLPP, yaitu 7 Bank Umum dan 22 Bank Pembangunan Daerah (BPD). (bus/antara)


  
  
TERPOPULER
Index +