Sabtu, 22 September 2018 | 09:04 WIB
Penjualan Mobil Diperkirakan Naik pada 2018
Kamis, 21 Desember 2017 | 04:51 WIB
ilustrasi -

Skalanews - Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian RI Haris Munandar memperkirakan angka penjualan mobil pada tahun 2018 akan naik hingga 1,2 juta unit.

Kendati demukian, ia memperkirakan penjualan tahun 2017 tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2016 sebanyak 1,06 juta unit karena dalam 11 bulan terakhir angka penjualan wholesale baru mencapai 994.436 unit berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

"Tahun depan bisa menggeliat naik sampai 1,1 atau 1,2 juta unit. Walaupun tahun ini tidak akan sampai 1,2 juta, paling-paling 1,06 juta sampai mendekati 1,1 juta unit," kata Haris Munandar di di Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/12).

Haris memperkirakan kenaikan angka penjualan pada tahun depan didorong dengan kondisi perekonomian yang terus membaik sehingga meningkatkan daya beli masyarakat.

Hadirnya pemain-pemain otomotif baru dari China, Wuling dan Sokon, juga akan memperbesar pasar otomotif pada tahun depan, di samping para pabrikan lain yang gencar meluncurkan produk baru pada 2018.

"Banyak produk baru, juga ada dua pemain dari China, Wuling dan Sokon," kata Haris.

Hadirnya pabrikan asal China juga akan memperlebar pasar penjualan di segmen kendaraan penumpang (MPV) maupun kendaraan niaga karena Wuling dan Sokon menawarkan harga yang kompetitif sehingga mampu menarik minat konsumen.

"Ada pelebaran pasar di segmen yang mereka mainkan. Orang masih fokus pada harga, dan mereka menyasar pasar itu," katanya.

Haris juga memuji kinerja ekspor mobil 2017 dengan tersebarnya hasil produksi Toyota Indonesia ke sejumlah pasar ekspor antara lain Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin.

Untuk itu ia berharap model kendaraan yang diminati untuk pasar ekspor juga diminati oleh konsumen di Indonesia agar perusahaan bisa mengoptimalkan lini produksi di pabrik mereka.

"Kami akan mendorong supaya model sedan lebih diminati lagi supaya juga laku di dalam negeri agar skala ekonominya tercapai," kata Haris. (bus/antara)