Kamis, 18 Juli 2019 | 20:16 WIB
Home > Hukum >
Polri Persilahkan Amnesty Internasional Investigasi Pelanggaran HAM Aksi 21-23 Mei
Rabu, 26 Juni 2019 | 18:11 WIB
-

Skalanews -Polri mempersilakan Amnesty International Indonesia untuk melakukan investigasi atas dugaan penyiksaan dan perlakukan buruk polisi saat aksi 21-22 Mei 2019.

Dikatakan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo pihaknya akan menerima dan mempelajari hasil investigasi yang dilakukan Amnesty Internasional Indonesia tersebut.

"Monggo. Tim investigasi ini kan terbuka. Sepanjang data itu masih bisa dipertanggungjawabkan, hasilnya diserahkan, nanti kan dipelajari," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (26/6).

Meski demikian, Dedi menyatakan tim investigasi gabungan yang mengusut kerusuhan aksi 21-22 Mei sudah bekerja dengan komprehensif.

Tim investigasi tersebut dipaparkan Dedi, gabungan dari Bareskrim (Badan Reserse Kriminal), ahli hukum, Divisi Propam (Profesi dan Pengamanan), Labfor (Laboratorium Forensik), Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System), kedokteran, pakar, dan bersinergi juga dengan Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia), dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Sejumlah fakta yang didapati oleh lembaga-lembaga tersebut nantinya akan dipadukan satu dengan yang lainya.

"Kan berbeda-beda, Kompolnas juga. Namun, pada saat rilis nanti akan ada klarifikasi-klarifikasi data yang dimiliki mereka hasil investigasi gabungan," pungkas Dedi.

Diketahui Amnesty International Indonesia membuat surat terbuka pada Presiden Jokowi agar menggelar investigasi tindak penyiksaan dan perlakuan buruk polisi saat aksi 21-23 Mei. Salah satu yang disorot Amnesty ialah penyiksaan seorang pria oleh oknum di Kampung Bali, Jakarta Pusat.

"Kita minta ada investigasi independen efektif di Kampung Bali. Mungkin juga insiden yang lain di tempat lain di 21, 22 dan 23 (Mei 2019)," kata Peneliti Amnesty International Indonesia Papang Hidayat. (Frida Astuti/Bus)