Senin, 15 Oktober 2018 | 17:34 WIB
Siber Polri Ungkap Penjualan Surat Sakit Palsu Lewat Dunia Maya
Jumat, 12 Januari 2018 | 16:47 WIB
-

Skalanews - Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membongkar praktik jual beli surat keterangan sakit palsu melalui website dan media sosial.

Yang ditangkap yakni inisial NDY surat sakit palsu lewat www.jasasuratsakit.blogspot.com bersama pria berinisial MKM. Dan kemudian tersangka MJS menjual melalui akun Instagram @suratsakitjkt.

"Konologis pengungkapan kasus ini. Jadi berawal dari informasi oleh Kemenkes bahwa telah beredar surat sakit yang dijualbelikan di media sosial yaitu melalui akun Instagram Twitter maupun Facebook," kata Kasubdit II Dittipid Siber Bareskrim Kombes Asep Syafruddin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (12/1).

Dari laporan itu Satgas e-commerce yang dibentuk Dittiped Siber melakukan penyelidikan pada awal Januari lalu.

"Jadi ternyata yang menjualnya itu adalah bukan dokter. kita telah melakukan penangkapan terhadap tiga orang tersangka. MKM, NDY dan MJS. dengan peran yang berbeda," sambungnya.

Dirinci Asep, mulanya yang ditangkap yakni tersangka MJS yang menjual surat palsu melalui instagram. Penyidik kemudian melacak identitas MJS serta kegiatannya.

"Ternyata memang betul didapatkan bahwa yang bersangkutan memperjualbelikan itu. kemudian kita dalami lebih lagi darimana di MJS itu mendapatkan surat sakit itu. ternyata ada dua orang lainnya yang terlibat yaitu saudara MKM dan NDY," rincinya.

Dari hasil pemeriksaan MKM, diketahui yang bersangkutan juga pernah menjual surat sakit palsu di media sosia dan website suratsakit.blogspot.com.

"Mereka sekaligus memproduksi surat itu, kemudian dibantu oleh NDY untuk melakukan marketing. Kemudian kita lakukan penangkapan terhadap tiga orang tersebut dalam waktu yang bersamaan," imbuhnya lagi.

Tersangka MKM mengaku sudah menjual surat sakit palsu sejak 2012 lalu sedangkan tersangka MJS sejak 2016 lalu. Adapun motif pelaku yakni murni mencari keuntungan.

"Dari keterangan salah satu tersangka, dia pernah dulu waktu dia bekerja kalau dia malas untuk kerja, dia cari surat sakit bohong-bohongan. kemudian ide itu ia kembangkan, setelah dia keluar kerjaan, dia kembangkan ternyata banyak yang membutuhkan," ungkapnya.

Pelaku juga mencatut nama rumah sakit atau praktik dokter yang pernah dilihatnya. Harga yang dipatok berkisar Rp25.000 sampai Rp50.000.

"Sehari itu bisa sampai 50 pemesan. artinya dia bisa mendapatkan satu juta perhari. kalau lagi rame. dan kemudian terhadapnya kita kenakan Undang-undang," lanjut Asep.

Ketiga pelaku disangkakan dengan Pasal 28 ayat 1 undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan Pasal 29 ayat 1, Pasal 73 ayat 1 Jo Pasal 77 Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.

"Ancaman hukumannya 5 tahun sehingga kita lakukan penahanan terhadap mereka," pungkasnya.(Frida Astuti/dbs)


  
  
Berita Terkait: