Kamis, 17 Oktober 2019 | 19:50 WIB
Polda Jatim Temukan 6 Rekening Baru Milik Veronica Koman
Sabtu, 14 September 2019 | 00:04 WIB
Irjen Pol Luki Hermawan: Polda Jatim temukan 6 rekening baru milik tersangka Veronica Koman yang nilai transaksinya signifikan - [ist]

Skalanews - Polda Jatim menemukan enam rekening lain milik tersangka kasus dugaan penyebaran berita hoaks dan provokasi Veronica Koman.

Hal itu dikatakan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan bahwa dari pemeriksaan keenam rekening tersebut ada transaksi keuangan yang nilainya signifikan.

"Dari penyidikan, ada enam rekening kami temukan dan ada dana signifikasi yang masuk," ujar Luki di kantornya, Surabaya, Jumat (13/9/2019).

Dari temuan itu, Luki menambahkan penyidik curiga nilai transaksi yang signifikan mengingat posisi tersangka sebagai mahasiswa.

"Tak masuk akal rekening mahasiswa ada transaksi keuangan masuk besar. Apalagi di lakukan penarikan di daerah konflik," jelasnya.

Luki menjelaskan pihaknya terus mengembangkan pemeriksaan rekening yang bersangkutan. Karena dari hasil penelusuran sementara, terdapat transaksi keuangan di beberapa wilayah, baik di Surabaya maupun di Papua.

"Ini juga mungkin akan kami kembangkan terus, karena ada beberapa penarikan di beberapa wilayah, baik itu di Surabaya maupun di luar Surabaya, di wilayah Papua," tutupnya.

Diketahui, ujaran kebencian yang sudah dilakukan Veronica Koman menjadi salah satu indikasi terjadinya kerusuhan di Papua beberapa waktu lalu.

Beberapa unggahan tersangka lewat akun medsos twitter @VeronicaKoman bernada provokasi dan menyulut kerusuhan masyarakat. Salah satunya pada 18 Agustus 2019, Veronica menulis "Moment polisi mulai tembak asrama Papua. Total 23 tembakan dan gas air mata".

Ada juga unggahan yang kalimatnya, "Anak-anak tidak makan selama 24 jam, haus dan terkurung disuruh keluar ke lautan massa". Kemudian, "43 mahasiswa Papua ditangkap tanpa alasan yang jelas, 5 terluka, 1 terkena tembakan gas air mata".

Veronica Koman sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh aparat kepolisian atas kasus penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian terkait insiden di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan Surabaya. Dan juga menyebarkan konten berita bohong atau hoaks dan provokatif terkait kerusuhan Papua dan Papua Barat.

Polisi menjerat Veronica dengan sejumlah pasal dalam beberapa undang-undang. Antara lain, terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terkait pasal penghasutan, dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. (Wahyu/bus)