Sabtu, 22 Februari 2020 | 17:06 WIB
Hakim PN Medan Jamaluddin Tewas Dibekap Saat Sedang Tidur
Rabu, 8 Januari 2020 | 17:15 WIB
Jamaluddin dan Istri - ist

Skalanews - Polda Sumatera Utara membeberkan kasus pembunuhan terhadap hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan Jamaluddin.

Nyawa Jamaluddin melayang setelah sang istri, Zuraida Hanum menyuruh Jefri Pratama bersama rekannya Reza Fahlevi untuk mengeksekusi Humas PN Medan itu.

Zuraida merencanakan membunuh Jamaluddin karena sakit hati karena diselingkuhi.

Pada akhir 2018, Zuraida berkenalan dengan pelaku Jefri, karena anak mereka satu sekolah. Perempuan itu kerap mencurahkan isi hatinya kepada Jefri lalu berujung ikatan asmara antar keduanya.

Pada 25 November 2019, Zuraida dan Jefri bertemu di Coffee Town di Ringroad Medan untuk merencanakan pembunuhan terhadap Jamaluddin. Rencana itu kemudian diberitahukan kepada pelaku Reza.

Reza kemudian diberikan Rp 2 juta untuk membeli 1 (satu) unit handphone kecil, 2 pasang sepatu, 2 potong baju kaus, dan sarung tangan.

Aksi pembunuhan terjadi pada 28 November. Sekitar pukul 19.00 WIB, tersangka Jefri dan Reza dijemput Zuraida menggunakan mobil Toyota Camry BK 78 ZH di Pasar Johor, Jalan Karya Wisata. Mereka menuju rumah korban dan langsung masuk ke dalam garasi.

Setelah tiba, Jefri dan Reza turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Usai menutup gerbang, Zuraida mengantar Jefri dan Reza ke lantai 3 rumahnya.

Sekitar pukul 20.00 WIB, Zuraida naik ke lantai 3 membawakan minuman air mineral kepada Jefri dan Reza. Lalu sekitar pukul 21.00 WIB, Zuraida naik kembali ke lantai 3 untuk melihat kedua eksekutor itu.

Lalu pada 29 November 2019 sekitar Pukul 01.00 WIB, Zuraida naik kembali ke lantai 3 dan memberi petunjuk kepada Jefri dan Reza untuk turun dan menuntun jalan menuju kamar korban.

Di dalam kamar, Jefri dan Reza melihat korban tidur memakai sarung dan tidak memakai baju. Putrinya K tidur di kasur itu, sementara Zuraida mengambil posisi di tengah.

Kedua eksekutor kemudian menghabisi korban dengan cara membekapnya dengan kain dari kasur. Zuraida turut membantu sembari menenangkan putrinya yang terbangun.

"Pembunuhannya ini cukup bagus, tanpa alat bukti, tanpa kekerasan, korban dibunuh dengan cara dibekap sehingga kehabisan napas, sehingga terbukti hasil laboratorium forensik bahwa korban diduga meninggal karena lemas," kata Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin, Rabu (8/1).

Setelah korban meninggal dunia, sekitar pukul 03.00 WIB, ketiganya sepakat membuang mayat korban di daerah Berastagi. Korban dipakaikan baju dan celana olahraga PN Medan berwarna hijau.

Korban kemudian dimasukkan ke dalam mobilnya, Toyota Prado BK 77 HD. Dia ditempatkan di kursi baris kedua. Jefri menyetir mobil korban dan Reza duduk di sebalah kiri depan. Sementara Zuraida membuka dan menutup pagar garasi.

Mereka kemudian singgah ke rumah orang tua Reza di Jalan Silangge untuk mengambil sepeda motor Honda Vario Hitam BK 5898 AET. Mereka kemudian begerak menuju arah Berastagi.

Namun sampai Jalan Jamin Ginting, dekat Kantor Kades Bintang Meriah, mereka berbalik arah karena adanya kemacetan lalu lintas. Mereka akhirnya membuang mobil berisi korban dalam kondisi mesin menyala ke dalam jurang kebun sawit di Desa Sukarame, Kutalimbaru, Deli Serdang. JP dan RF kemudian meninggalkan lokasi menggunakan sepeda motor.

Ketiga tersangka diduga telah melakukan pembunuhan berencana, dijerat dengan Pasal 340 subs Pasal 338 Jo pasal 55 ayat (1) ke-1e.

"Ancamannya hukuman mati," pungkasnya. (Frida Astuti/Bus)