Rabu, 26 Februari 2020 | 23:06 WIB
Pelajar yang Bunuh Begal Dihukum Pembinaan, Komisi III DPR Apresiasi Hakim
Jumat, 24 Januari 2020 | 15:15 WIB
-

Skalanews - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Kabupaten Malang memvonis ZL (17), pelajar yang menganiaya begal hingga tewas, dengan hukuman pembinaan selama satu tahun.

Vonis tersebut menuai apresiasi dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni. Menurutnya, hukuman pembinaan bagi kasus pidana yang melibatkan anak sangatlah tepat.

Terlebih lagi, terdakwa melakukan perbuatannya karena membela kekasih yang diancam untuk diperkosa oleh pelaku begal. Dalam posisi tersebut Sahroni memandang hakim telah berlaku bijaksana lewat keputusannya membonis terdakwa dengan sanksi pembinaan.

"Jelas dalam KUHP disebutkan bahwa penghilangan nyawa seseorang dapat dikenai sanksi pidana. Namun kearifan penegak hukum dituntut untuk sangat bijak dalam menilai duduk persoalan yang sesungguhnya," kata Sahroni, Jumat (24/1).

"Saya memandang hakim telah menjalankan diskresi atas kewenangannya dengan tepat," sambungnya lagi.

Sahroni menyebut vonis ini bisa menjadi yurisprudensi dalam proses penegakan hukum ke depan sehingga dalam perkara-perkara sejenis, khususnya yang melibatkan anak lebih mengedepankan rehabilitasi atau pembinaan dibanding hukuman kurung badan sebagai disebutkan dalam KUHP.

Hal tersebut, sambung politisi NasDem ini, sejalan dengan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak dimana hakim melakukan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

"Memang terbilang belum umum diterapkan, namun bisa menjadi bagian dari restoratif justice dalam sistem hukum pidana kita," tutupnya.

Sebagaimana diberitakan, Ketua Hakim, Nuny Defiary yang memimpin persidangan kasus pembunuhan begal menjatuhkan sanksi berupa 1 tahun pembinaan di LKSA Darul Aitam Wajak terhadap ZL. (Frida Astuti/Bus)