Senin, 26 Agustus 2019 | 08:49 WIB
Putusan Praperadilan Novanto Lindungi Pelaku Korupsi Berjamaah
Sabtu, 30 September 2017 | 20:30 WIB
Ray Rangkuti - [Deni Hardimansyah/skalanews]

Skalanews - Putusan Praperadilan Setya Novanto bakal melindungi para pelaku korupsi berjamaah. Karena, hanya satu pelaku saja yang dapat dihukum sedangkan pelaku lainnya yang menjadi turut serta dapat hidup bebas.

Hal itulah yang digambarkan oleh Pengamat Politik dari Lingkar Masyarakat Madani (Lima) Ray Rangkuti saat jumpa pers di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (30/9).

Ray menyebutkan, putusan yang diketuk palu oleh Hakim Tunggal Cepi Iskandar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin, bakal mempersulit para penegak hukum lainnya untuk menetapkan tersangka.

"Karena satu tersangka dengan tersangka lainnya harus memiliki alat bukti yang berlainan. Sedangkan bila alat buktinya sama maka tidak dapat dipakai."

"Ini makin mempersulit penegak hukum bukan hanya KPK saja untuk menetapkan tersangka," jelasnya.

Padahal, dalam perkara pidana terdapat sebuah delik penyertaan yaitu sebuah perbuatan pidana yang dilakukan secara bersamaan.

Sebagai contoh, ada dua pelaku maling ayam yang satu bertugas menjaga kondisi kandang dan satunya melakukan eksekusi menangkap ayam. Kemudian, yang tertangkap adalah pelaku yang mengesekusi ayam. Dengan barang bukti seekor ayam.

Menurut Ray, dengan putusan Hakim Cepi tersebut, maka ayam sudah menjadi alat bukti, untuk yang mengeksekusi mengambil ayam tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti untuk pelaku yang menjaga kondisi sekitar kandang.

Atas dasar itulah, Ray menyebutkan, dengan adanya putusan ini para koruptor sebaiknya melakukan korupsi secara berjamaah. "Kemudian tentukan siapakah yang bakal dikorbankan untuk ditetapkan sebagai tersangka," jelasnya.

Meski demikian, Ray mengaku jika dirinya sudah menduga putusan praperadilan tersebut bakal memenangkan Setya Novanto.

"Sebagaimana terdapat kejanggalan yang pernah dipaparkan oleh ICW jadi tidak terlalu terkejut. Tetapi, manuver apakah yang akan digunakan untuk melepas SN inilah yang menjadi menarik," jelasnya.

Seperti diketahui, salah satu dalil mengapa Hakim Cepi mencabut putusan penetapan Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP tidak sah adalah karena KPK menggunakan alat bukti yang sama dengan tersangka yang lain. Yakni, alat  bukti Andi Agustinus dan Irman kemudian Sugiharto.

Padahal, dalam dakwaan KPK para pelaku melakukan dugaan korupsi proyek e-KTP secara bersama-sama. (Bisma Rizal/bus)